Strategi Cerdas Anak Muda RI dalam Mengelola Keuangan di Era Digital

Senin 14-07-2025,06:42 WIB
Reporter : Tazqia Aulia Zalzabillah
Editor : Tazqia Aulia Zalzabillah

MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kemudahan bertransaksi digital, anak muda Indonesia kini hidup di era yang penuh godaan finansial. 

Layanan hiburan berlangganan, kemudahan belanja online, hingga tawaran jalan-jalan ke berbagai destinasi menarik kini semua bisa dilakukan hanya dengan satu sentuhan di layar ponsel.

Namun di balik kemudahan itu, muncul tantangan besar yakni 'bagaimana cara mengatur keuangan dengan bijak di tengah budaya konsumtif yang kian menjamur?'

Generasi muda Indonesia terutama Gen Z dan Milenial kerap terjebak dalam gaya hidup YOLO (You Only Live Once) dan fenomena FOMO (Fear of Missing Out). 

Kedua prinsip ini mendorong mereka untuk membelanjakan uang secara impulsif demi pengalaman sesaat atau sekadar mengikuti tren media sosial, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Kekhawatiran Finansial Jadi Masalah Utama Gen Z dan Milenial

Sebuah laporan dari Deloitte menyoroti bahwa biaya hidup kini menjadi kekhawatiran terbesar bagi anak muda secara global. 

Tercatat, sebanyak 39 persen Gen Z dan 41 persen Milenial menyebut biaya hidup sebagai sumber stres utama mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa ada urgensi tinggi bagi generasi muda untuk membekali diri dengan literasi keuangan yang kuat. 

Mengelola uang tidak cukup dengan hanya menabung tetapi juga melibatkan pemahaman atas prioritas pengeluaran, manajemen risiko, serta perencanaan jangka panjang.

Cara Anak Muda RI Mengatur Keuangannya

Sebuah survei dari Populix, yang dilakukan pada 20 hingga 25 Februari 2025 terhadap 1.100 responden (setengah Gen Z, setengah Milenial), memetakan berbagai pendekatan yang diambil anak muda Indonesia dalam mengelola uang:

  • 42 persen responden sudah menerapkan pemisahan antara pengeluaran harian dan tabungan. Strategi ini terbukti efektif menjaga stabilitas finansial, terutama saat menghadapi kondisi darurat.
  • 31 persen responden memilih untuk belanja sesuai kebutuhan, tanpa perencanaan khusus, namun tetap menghindari pembelian impulsif.
  • 27 persen responden mengutamakan menabung lebih dahulu sebelum membelanjakan uang untuk kebutuhan pribadi.
  • Sebaliknya, 26 persen responden menempatkan pemenuhan kebutuhan sebagai prioritas, dan baru menyisihkan sisanya untuk tabungan.
  • 23 persen responden bahkan sudah mulai menyisihkan dana untuk investasi, menandakan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pertumbuhan aset jangka panjang.
  • Sebagian lainnya juga menggunakan penghasilan mereka untuk membantu keluarga, sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

Pemerintah Dorong Literasi Keuangan Melalui Program Like It

Menyadari pentingnya literasi keuangan di kalangan anak muda, Kementerian Keuangan RI bekerja sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) meluncurkan program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It).

Program ini menyasar kampus-kampus di seluruh Indonesia dan bertujuan memberikan edukasi praktis tentang keuangan mulai dari cara menabung, membuat anggaran, hingga pengenalan dasar investasi. 

Like It menjadi ruang interaktif bagi generasi muda untuk bertanya, berdiskusi, dan belajar langsung dari para ahli keuangan.

Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, indeks literasi keuangan generasi muda (usia 18–25 tahun) telah mencapai 70 persen, sementara indeks inklusi keuangan berada di angka 79 persen. 

Meski angka ini cukup menjanjikan, namun tantangan nyata tetap ada yaitu memastikan agar literasi ini benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kategori :