Yang terakhir, coba ingatkan diri: saat ini lagi jauh dari rumah karena sedang berjuang. Belajar. Menata masa depan. Dan keluarga pasti bangga. Momen Tri Hari Suci bisa jadi waktu yang tepat untuk refleksi—tentang pengorbanan dan harapan.
Yesus pun tidak berada di tempat nyaman saat menjalani penderitaan. Tapi dari situ, kebangkitan datang. Setiap perjuangan di tanah rantau juga, pelan-pelan, sedang mengarah ke situ.
Jauh, Tapi Tidak Sendirian!
Homesick itu bukan tanda lemah, tapi tanda bahwa ada sesuatu yang berarti untuk dirindukan. Tri Hari Suci di perantauan memang berat. Tapi dengan langkah kecil dan hati yang terbuka, semua bisa dilalui.
Rindu boleh. Nangis pun boleh. Tapi jangan lupa: sedang tumbuh. Dan dari kejauhan, keluarga pasti sedang mendoakan—seperti halnya doa-doa yang sedang dilantunkan dari perantauan ini.