JAKARTA, DISWAYMALANG.ID - Mendapatkan beasiswa luar negeri tidak selalu harus memiliki deretan prestasi lomba atau publikasi ilmiah.
Seorang lulusan Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan IPK 3,56 membuktikan bahwa strategi memilih kampus, membangun keunikan diri, dan menulis esai yang kuat bisa membuka jalan meraih dua beasiswa sekaligus ke Belanda.
Alumni ITB tersebut berhasil mendapatkan University of Twente Scholarship dan Holland Scholarship. Pengalamannya menjadi pelajaran bagi pemburu beasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, terutama mereka yang merasa rekam jejak akademiknya belum cukup menonjol.
Dalam video yang dibagikan melalui YouTube, ia membeberkan empat strategi penting. Bukan sekadar mengejar nilai tinggi, tetapi memahami peluang dan mengetahui cara memperkenalkan kapasitas diri kepada pihak penyeleksi.
1. Kenali Kapasitas Diri, Jangan Terjebak Gengsi Kampus
Strategi pertama adalah menurunkan ego dan bersikap realistis. Menurut pengalaman alumni tersebut, calon penerima beasiswa perlu memahami kekuatan, kelemahan, nilai akademik, serta pengalaman yang dimiliki sebelum menentukan tujuan.
Tidak semua orang harus memaksakan diri mendaftar ke universitas dengan persaingan sangat ketat seperti Harvard, Stanford, atau MIT. Kampus bergengsi memang menarik, tetapi pilihan universitas sebaiknya disesuaikan dengan profil dan rekam jejak masing-masing.
Jika nilai akademik belum terlalu menonjol, pelamar perlu mencari sisi lain yang dapat memperkuat aplikasi. Pengalaman organisasi, proyek, pekerjaan, maupun kontribusi tertentu bisa menjadi nilai pembeda.
Intinya, mengenali kapasitas diri bukan berarti membatasi mimpi. Justru langkah tersebut membantu calon mahasiswa menyusun strategi yang lebih terarah dan meningkatkan peluang diterima.
2. Cerdik Mencari Beasiswa yang Tidak Terlalu Populer
Strategi kedua adalah menjadi pelamar yang cerdik dalam membaca peluang. Banyak orang hanya berfokus pada program beasiswa populer, padahal universitas di luar negeri juga menyediakan berbagai skema pendanaan khusus.
Salah satu contohnya adalah university scholarship atau beasiswa yang disediakan langsung oleh kampus. Program semacam ini layak ditelusuri karena persaingannya tersebar di antara berbagai universitas dan bidang studi.
Sebaliknya, beasiswa populer seperti LPDP memiliki jumlah peminat yang sangat besar. Karena itu, calon penerima beasiswa perlu memperluas pencarian dan tidak terpaku pada satu jalur pendanaan.
"Semakin sedikit orang yang tahu tentang beasiswa tersebut, semakin besar peluang kita untuk mendapatkan beasiswa tersebut, karena sesimpel saingan kita sedikit," ungkap alumni ITB tersebut.
Strategi ini bukan berarti beasiswa yang kurang populer pasti lebih mudah didapatkan. Setiap program tetap memiliki persyaratan dan proses seleksi, sehingga pelamar harus memeriksa ketentuan secara teliti.