Kemenekraf: Consumer Insight Jadi Kunci Ekonomi Kreatif di Era AI

Minggu 01-11-2026,15:30 WIB
Reporter : Mohammad Khakim
Editor : Mohammad Khakim

JAKARTA, DISWAYMALANG.ID — Perubahan kebiasaan konsumen di era digital membuat perusahaan harus lebih cermat membaca kebutuhan pasar. Pemanfaatan data dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu cara untuk memahami perilaku tersebut sekaligus menyusun strategi pemasaran yang tepat.

Staf Ahli Menteri Bidang Riset, Pendidikan dan Hubungan Kelembagaan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) Dian Permanasari menegaskan pentingnya consumer insight dalam menghadapi perubahan tersebut. Menurutnya, perusahaan tidak cukup hanya menawarkan produk melalui promosi, tetapi perlu memahami alasan konsumen memilih suatu produk.

Dian menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara utama dalam Indonesia Marketing Excellence Awards 2026 di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (30/10/2026). Acara yang diselenggarakan Warta Ekonomi tersebut mengangkat tema Turning Consumer Insight into Business Impact.

Menurut Dian, perilaku konsumen telah berubah seiring perkembangan teknologi. Sebelum membeli produk, masyarakat kini cenderung mencari ulasan, membandingkan harga, serta mempertimbangkan pengalaman pengguna lain.

“Teknologi tidak hanya mengubah cara dan saluran pemasaran, tetapi telah mengubah fundamental perilaku konsumen,” ujar Dian.

Perubahan itu menuntut perusahaan memanfaatkan data digital untuk memahami kebutuhan pasar. Informasi mengenai produk yang dicari, konten yang ditonton, hingga transaksi konsumen dapat dianalisis untuk membaca preferensi dan motivasi di balik keputusan pembelian.

“Data inilah yang kita analisis, kemudian kita interpretasikan, sehingga kita memahami kebutuhan, memahami motivasi, serta alasan dan perilaku konsumen. Inilah consumer insight,” jelasnya.

Dian menilai pemahaman terhadap konsumen dapat membantu perusahaan menciptakan produk dan strategi pemasaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Dalam industri ekonomi kreatif, proses tersebut juga membuka peluang lahirnya inovasi yang memiliki nilai tambah.

“Data menjadi insight, insight menjadi kreativitas, kreativitas menjadi value ekonomi. Inilah ekonomi kreatif,” tuturnya.

AI Tidak Menggantikan Pemahaman terhadap Manusia

Dian juga menyoroti peran AI dalam perkembangan industri pemasaran. Teknologi tersebut dapat membantu perusahaan membaca data konsumen, melakukan personalisasi layanan, dan meningkatkan produktivitas.

Namun, kemudahan pemanfaatan AI juga membuat persaingan untuk mendapatkan perhatian konsumen semakin ketat. Perusahaan perlu menjaga orisinalitas, autentisitas, kepercayaan, kreativitas manusia, serta menghargai kekayaan intelektual.

“AI dapat membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi tidak bisa menggantikan kebutuhan kita untuk memahami manusia,” ujarnya.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa teknologi sebaiknya menjadi alat pendukung dalam proses kreatif dan pengambilan keputusan. Pemahaman terhadap manusia tetap diperlukan agar produk dan komunikasi pemasaran tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan konsumen.

Riset Warta Ekonomi: 125 Perusahaan Lolos Seleksi

Kategori :