FKH UB Gali Potensi Antibiotik dari Antartika, Kecerdasan Buatan Bantu Hadapi Resistensi
Prof Clemente Michael Wong Vui Ling menyampaikan kuliah secara daring bertajuk 'From Resistance to Resilience: Emerging Strategies for Novel Antimicrobial Discovery in a One Health Framework. -fkh ub--
MALANG, DISWAYMALANG.ID – Mikroorganisme dari lingkungan ekstrem Antartika berpotensi menjadi sumber penemuan antibiotik baru. Teknologi kecerdasan buatan (AI) juga membuka peluang untuk mempercepat identifikasi senyawa antimikroba yang dapat membantu menghadapi resistensi obat.
Topik tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam Adjunct Professor Program 2026 yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) bersama Universiti Malaysia Sabah (UMS), Malaysia. Kegiatan berlangsung secara daring pada 20 Oktober 2026.
Program ini menghadirkan Prof Clemente Michael Wong Vui Ling dari Biotechnology Research Institute, Universiti Malaysia Sabah. Ia menyampaikan kuliah bertajuk From Resistance to Resilience: Emerging Strategies for Novel Antimicrobial Discovery in a One Health Framework.
Kegiatan yang dikoordinasikan Dr drh Fidi Nur Aini Eka Puji Dameanti MSi tersebut diikuti mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) dan dosen FKH UB. Kuliah internasional ini memperluas wawasan peserta mengenai perkembangan riset antimikroba sekaligus tantangan resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR).
Resistensi Antimikroba Jadi Tantangan Kesehatan Global
Dalam pemaparannya, Prof Wong menjelaskan bahwa resistensi antimikroba merupakan persoalan kompleks. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam pengobatan penyakit pada manusia, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan hewan dan lingkungan.
Resistensi terjadi ketika mikroorganisme, seperti bakteri, mengalami perubahan sehingga tidak lagi merespons obat antimikroba secara efektif. Akibatnya, infeksi menjadi lebih sulit ditangani dan pilihan pengobatan dapat semakin terbatas.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat turut mendorong perkembangan resistensi. Karena itu, penggunaan obat harus dilakukan secara bijak berdasarkan indikasi dan arahan tenaga kesehatan yang berwenang.
Pendekatan One Health menjadi salah satu landasan penting untuk mengatasi persoalan tersebut. Pendekatan ini mengakui keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.
Pengendalian AMR membutuhkan kerja sama lintas disiplin. Dokter hewan, tenaga kesehatan, peneliti, serta pemangku kepentingan lainnya perlu berkolaborasi dalam pencegahan infeksi, pemantauan resistensi, penggunaan antimikroba secara bertanggung jawab, dan pengembangan terapi baru.

Adjunct Professor Program 2026 yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) bersama Universiti Malaysia Sabah (UMS), Malaysia secara daring pada 20 Oktober 2026. -fkh ub--
Mikroorganisme Antartika Dibidik untuk Penemuan Antibiotik
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah eksplorasi mikroorganisme dari lingkungan ekstrem Antartika. Lingkungan dengan kondisi yang berbeda dari habitat pada umumnya dapat menjadi sumber mikroorganisme dengan karakteristik biologis unik.
Dalam penelitian antimikroba, mikroorganisme tersebut dapat dieksplorasi untuk mencari senyawa yang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri atau mikroorganisme penyebab penyakit.
Sumber:










