KLOJEN, DISWAYMALANG.ID — Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang melatih 266 peserta dalam program public speaking selama dua hari, 28–29 Oktober 2026. Pelatihan ini menekankan kemampuan berbicara di depan publik yang diimbangi etika, kesantunan, dan pemahaman terhadap karakter audiens.
Kepala Diskominfo Kota Malang Muhammad Nur Widianto mengatakan, kemampuan komunikasi di tengah derasnya arus informasi tidak cukup hanya mengandalkan teknik berbicara. Masyarakat juga perlu memahami etika dalam menyampaikan pendapat, terutama di ruang digital.
“Teknik komunikasi harus diikuti nilai-nilai ketimuran, adab, dan nilai religi,” ujar Nur Widianto saat pelatihan di Gedung Mini Block Office (MBO) lantai 4, Rabu (28/10).
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi membuat masyarakat setiap hari terpapar beragam informasi, baik positif maupun negatif. Kondisi tersebut menuntut kecakapan menyampaikan pesan secara tepat dan bertanggung jawab agar perbedaan pendapat tidak berkembang menjadi konflik akibat cara berkomunikasi yang keliru.
BACA JUGA:Wahyu Hidayat Kenakan Busana Melayu Medan saat Upacara Sumpah Pemuda
Nur Widianto menjelaskan, pelatihan tersebut telah memasuki tahun kedua dan berawal dari usulan masyarakat melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), termasuk Musrenbang tematik.
Pemkot Malang berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan di lingkungan masing-masing, baik dalam kegiatan organisasi, aktivitas sosial, maupun penyampaian aspirasi masyarakat.
Sebanyak 266 peserta dibagi menjadi dua kelompok atau batch, masing-masing 133 orang. Peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, antara lain perwakilan kelurahan, kader antinarkoba, organisasi perempuan, kelompok pemerhati gender, dan komunitas disabilitas.
BACA JUGA:Pasar Murah HUT ke-81 Jatim di Batu Diserbu Warga, Beras 5 Kg Rp55 Ribu
Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menekankan bahwa keberhasilan public speaking tidak hanya diukur dari kelancaran seseorang berbicara, tetapi juga dari kemampuan memastikan pesan dipahami audiens.
Menurut Wahyu, pemilihan kata, etika penyampaian, dan kemampuan membaca situasi menjadi faktor penting dalam membangun komunikasi yang efektif.
“Jangan sampai kita menyampaikan sesuatu, tetapi tidak bisa diterima dengan baik. Akhirnya, apa yang kita lakukan menjadi sia-sia karena pesan yang ingin disampaikan tidak dipahami,” tutupnya.