Hari Seniman Internasional 25 Oktober 2026, Mengenang Maestro dan Pewaris Seni Malang Raya

Minggu 25-10-2026,06:52 WIB
Reporter : Fairuz Ainur Syafa Mustofa
Editor : Mohammad Khakim

Ia dikenal menguasai cerita Panji, cerita purwa, serta tokoh-tokoh seperti Panji Asmorobangun, Gunungsari, dan Klana. Dalam pertunjukan Wayang Topeng Malangan, dalang memegang peran penting untuk menuturkan cerita, mengatur alur pertunjukan, dan memberikan aba-aba kepada penari serta penabuh gamelan.

Pekerjaan dalang menuntut penguasaan cerita, teknik vokal, intonasi, improvisasi, dan pemahaman karakter. Ia bukan hanya menyampaikan dialog, melainkan juga menjaga agar pertunjukan bergerak sebagai satu kesatuan.

Selain tampil, Ki Kasnam juga disebut membina sanggar dan mengajarkan keterampilan mendalang kepada generasi muda. Peran semacam ini penting agar kesenian tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi tetap memiliki penerus yang memahami teknik sekaligus nilai budayanya.

Mbah Misdi dan Tradisi Topeng Jabung

Kabupaten Malang memiliki ragam tradisi topeng yang berkembang dengan karakter lokal. Salah satunya Topeng Jabung, yang tumbuh di Desa Jabung, Kecamatan Jabung.

Mbah Misdi dikenal sebagai salah satu maestro Topeng Jabung Malangan. Perjalanannya dalam kesenian juga berkaitan dengan ludruk. Ia kemudian mengabdikan diri untuk mengajar tari topeng, termasuk kepada mahasiswa seni di Surabaya.

Topeng Jabung umumnya mengangkat cerita Panji dan menjadi bagian dari kekayaan tradisi pertunjukan di Malang Raya. Keberadaan tokoh seperti Mbah Misdi memperlihatkan bahwa seni tradisi tidak berkembang dalam satu bentuk yang seragam. Setiap wilayah dapat memiliki gaya, karakter, dan jalur pewarisan sendiri.

Dokumentasi mengenai tokoh-tokoh seperti Mbah Misdi juga penting agar kontribusi seniman tradisional tidak hilang dari ingatan publik. Apresiasi terhadap maestro perlu disertai upaya mencatat perjalanan hidup, karya, murid, dan pengaruh mereka.

Tak Hanya Topeng, Malang Raya Punya Ludruk dan Seni Tradisional Lain

Kekayaan seni Malang Raya tidak berhenti pada Wayang Topeng Malangan. Wilayah ini juga memiliki ludruk, wayang kulit gagrak Malangan, wayang krucil, Tari Beskalan, jaranan, karawitan, macapat, dan beragam musik tradisional.

Ludruk, misalnya, menjadi ruang pertunjukan yang memadukan dialog, humor, musik, dan kritik sosial. Kesenian ini dapat menjadi sarana untuk menyampaikan persoalan masyarakat melalui bahasa yang dekat dengan penonton.

Pada Agustus 2026, pertunjukan bertajuk Punokawan Merdeka! digelar di KARA Cafe Culture atau TosanAji.id Working Space, Kota Malang. Pagelaran tersebut melibatkan komunitas seni dan sejumlah lembaga, termasuk LPP RRI Malang, sebagai bagian dari upaya menghidupkan ludruk.

Kegiatan itu menunjukkan bahwa seni tradisional dapat mencari ruang pertunjukan baru dan menjangkau penonton lintas generasi. Kolaborasi dengan komunitas, ruang kreatif, lembaga penyiaran, dan pelaku usaha dapat membantu seni tradisi tetap hadir dalam kehidupan masyarakat modern.

Selain itu, keberadaan sanggar tari, kelompok karawitan, komunitas jaranan, dan kelompok ludruk di berbagai kecamatan memperlihatkan bahwa pelestarian seni tidak hanya bergantung pada satu maestro. Ada banyak pelaku seni yang bekerja di tingkat komunitas, sering kali jauh dari sorotan media.

Tantangan Seniman: Regenerasi, Ruang Tampil, dan Penghargaan

Hari Seniman Internasional juga menjadi kesempatan untuk melihat tantangan yang dihadapi seniman. Dalam seni tradisi, salah satu persoalan penting ialah regenerasi. Keahlian menari topeng, mendalang, menabuh gamelan, atau mengukir topeng membutuhkan waktu panjang untuk dipelajari.

Kategori :