Hari Seniman Internasional 25 Oktober 2026, Mengenang Maestro dan Pewaris Seni Malang Raya

Minggu 25-10-2026,06:52 WIB
Reporter : Fairuz Ainur Syafa Mustofa
Editor : Mohammad Khakim

Mbah Rasimun, Maestro Tari Topeng Gunungsari dan Seni Payung Kertas

Malang Raya juga memiliki Mbah Rasimun, seniman yang mengabdikan hidupnya untuk dua bidang seni tradisi. Ia dikenal sebagai maestro tari Topeng Gunungsari dari Glagahdowo, Kabupaten Malang, sekaligus maestro seni payung kertas dari Kota Malang.

Dalam seni topeng, Mbah Rasimun dikenal dengan kepiawaiannya membawakan karakter Gunungsari. Gerak tari yang lembut dan khas menjadikannya salah satu tokoh penting dalam tradisi Topeng Malangan. Ia juga pernah menjadi guru bagi seniman tari dari luar daerah.

Di bidang kerajinan, Mbah Rasimun tekun membuat payung kertas tradisional atau payung mutho. Ia menekuni keterampilan tersebut sejak 1945. Payung buatannya kemudian dikenal sebagai karya seni dan cendera mata, bahkan diminati pembeli dari luar negeri.

Pengabdian panjangnya mendapat penghargaan sebagai maestro seni payung Indonesia. Karya dan keterampilannya turut menginspirasi warga untuk mengembangkan kerajinan payung kertas sebagai bagian dari identitas budaya Kota Malang.

Mbah Rasimun wafat pada 20 November 2025 dalam usia 98 tahun. Kepergiannya meninggalkan pekerjaan penting bagi keluarga, komunitas, dan generasi penerus: memastikan keterampilan membuat payung kertas serta tradisi tari Topeng Gunungsari tetap dipelajari dan dikembangkan.

 

Kisah Mbah Rasimun menjadi pengingat bahwa maestro tidak hanya meninggalkan karya, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang perlu diwariskan. Pada Hari Seniman Internasional, mengenang jasanya berarti ikut menjaga agar seni tradisi Malang Raya tidak berhenti pada masa lalu.

Ki Sholeh Adi Pramono, Meneruskan Tradisi melalui Padepokan

Pewarisan seni tradisi di Kabupaten Malang berlanjut melalui sosok Ki Sholeh Adi Pramono. Seniman yang juga dikenal sebagai budayawan ini memimpin Padhepokan Seni Mangun Dharma di Kecamatan Tumpang.

Padepokan yang berdiri sejak 1989 tersebut mengembangkan beragam kesenian, mulai dari tari, pedalangan, sindenan, karawitan, macapat Malangan, hingga seni ukir topeng. Kegiatan pembelajaran dan pertunjukan menjadi bagian dari upaya menjaga seni tradisi tetap hidup.

Ki Sholeh juga dikenal menggarap sejumlah karya tari, di antaranya Yeg Oyeg, Condromowo, Tari Beskalan Putra, Tari Serimpi Limo, dan Tari Grebeg Sabrang.

Pada 2023, Padhepokan Seni Mangun Dharma masuk dalam 10 sanggar terbaik di Indonesia dalam program satu dekade Galeri Indonesia Kaya. Padepokan tersebut juga mengikuti berbagai festival seni dan budaya.

Keberadaan padepokan menunjukkan bahwa pelestarian seni tidak cukup dilakukan dengan menyimpan benda atau menggelar pertunjukan sesekali. Regenerasi memerlukan ruang belajar, latihan rutin, pendampingan, dan kesempatan tampil bagi seniman muda.

Ki Kasnam Wibowo dan Peran Dalang Wayang Topeng

Sosok lain yang turut menjaga tradisi Wayang Topeng Malangan adalah Ki Kasnam Wibowo, dalang yang berasal dari Talun, Kesamben, Kabupaten Malang.

Kategori :