“Kita tidak tahu cara bekerjanya oksigen. Kita tidak pernah tahu cara bekerjanya jantung, paru-paru, dan sebagainya,” ungkapnya.
Pernyataan kiai asal Rembang ini mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Pengetahuan yang dimiliki tidak lantas membuat manusia memahami seluruh rahasia kehidupan.
Karena itu, ilmu semestinya menumbuhkan kesadaran tentang kebesaran Allah. Bukan menjadi alasan untuk merasa paling tahu.
Kebutuhan Rohani Tak Bisa Diabaikan
Gus Baha juga membahas perbedaan kebutuhan jasmani dan rohani. Manusia bukan hanya membutuhkan kenikmatan fisik. Ada kebutuhan batin yang juga harus diperhatikan.
“Artinya, kita punya kebutuhan rohani,” katanya.
Ulama yang dikenal dengan gaya ceramah lugas ini mengajak jamaah memahami bahwa ibadah tidak semata-mata soal gerakan atau rutinitas. Ibadah juga berkaitan dengan kebutuhan jiwa untuk mendekat kepada Allah.
Dalam penjelasannya, kerinduan untuk bertemu Allah menjadi gambaran kebahagiaan rohani yang melampaui kenikmatan fisik. Kerinduan itu berkaitan dengan harapan orang beriman terhadap kehidupan akhirat.
Gus Baha turut mengingatkan pentingnya mencintai Nabi Muhammad saw dan umatnya. Mengajar agama, menurut penjelasan yang disampaikan dalam pengajian tersebut, tidak semestinya hanya dipandang sebagai pekerjaan untuk memperoleh upah.
“Guru itu ya orang yang selalu mengajar, digaji maupun tidak digaji,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menekankan ketulusan dalam mengajarkan ilmu. Seorang guru menjalankan peran untuk membimbing orang lain, bukan semata-mata mengejar imbalan.
Pada bagian lain, pengasuh pesantren di Rembang ini mengingatkan manusia agar tidak melupakan Allah setelah memperoleh berbagai nikmat. Kemudahan hidup semestinya membuat seseorang semakin bersyukur.
Melalui rangkaian penjelasan itu, Gus Baha mengajak jamaah menempatkan ilmu sebagai dasar beragama. Ilmu membantu manusia memahami tauhid. Ibadah menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah. Keduanya perlu berjalan beriringan.