Ketiga, tradisi lisan berupa cerita rakyat, legenda, macapat, dan berbagai versi kisah Panji. Keempat, ruang sosial yang meliputi kampung, pasar, kawasan pertanian, pegunungan, hingga lingkungan perkotaan.
Berbagai unsur tersebut dapat menjadi sumber inspirasi karya seni kontemporer yang tetap terhubung dengan sejarah dan kehidupan masyarakat.
Didit juga menekankan pentingnya kolaborasi antara seniman, budayawan, sejarawan, arkeolog, dan akademisi dalam mengembangkan karya berbasis warisan budaya.
Salah satu karyanya, Sorot Canopus, mengangkat visualisasi Candi Badut dan ditampilkan dalam ajang Indonesia Bertutur 2024 di Bali.
BACA JUGA:Persib Bandung Tak Terbendung! Viettel Ditaklukkan, Enam Poin Berhasil Dikantongi
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang Juli Handayani menjelaskan, pameran bersama delapan museum tersebut berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan kelompok peserta yang berbeda.
Pada hari pertama, kegiatan menyasar kepala sekolah negeri di Kota Malang. Hari kedua melibatkan guru IPS dari sekolah negeri, sedangkan hari ketiga menghadirkan seniman dan budayawan.
Menurut Juli, kegiatan tersebut menjadi upaya mendekatkan warisan sejarah dan kebudayaan kepada masyarakat sekaligus memperkuat pemahaman tentang perjalanan peradaban Malang Raya.
Melalui pameran dan pemaparan materi, peserta mendapatkan ruang untuk bertukar gagasan mengenai pelestarian kebudayaan, termasuk pemanfaatan teknologi dalam penyajian sejarah dan kesenian.