KLOJEN, DISWAYMALANG.ID — Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan di Kota Malang. Di tengah cuaca panas dan cenderung kering serta adanya potensi paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun debu vulkanik, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif mengatakan faktor lingkungan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan masyarakat. Tidak hanya kebersihan dan sanitasi pribadi maupun keluarga, tetapi juga kondisi lingkungan, termasuk kualitas udara.
“Karena berbasis lingkungan tentu bukan hanya higiene sanitasi pribadi dan keluarga, tetapi kita juga didukung oleh kondisi lingkungan. Untuk saat ini, inspeksi saluran pembuangan air lebih ditingkatkan karena berbagai faktor,” ujar Husnul, Kamis (17/9).
Menurutnya, kondisi udara menjadi perhatian karena masyarakat berpotensi terpapar asap karhutla maupun debu atau abu vulkanik dari aktivitas gunung api di wilayah Jawa Timur.
Paparan partikel di udara tersebut perlu diwaspadai karena dapat terhirup, terutama oleh masyarakat yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian karena aktivitas mereka berlangsung di sekolah maupun perjalanan berangkat dan pulang sekolah.
BACA JUGA:Kasus ISPA di Kota Batu Masih Landai, Dinkes: Belum Ada Laporan Flu Like Syndrome
Meski demikian, Husnul menegaskan Dinkes masih melakukan pemantauan untuk memastikan dampak kondisi lingkungan tersebut terhadap Kota Malang. Dinkes belum mengambil kesimpulan mengenai adanya abu vulkanik di wilayah Kota Malang.
“Sekarang masih dalam kondisi pemantauan. Nanti kalau memberikan kesimpulan bahwa abu vulkanik ada di Kota Malang, maka akan kami sampaikan kepada semua OPD untuk mengantisipasi,” katanya.
Dinkes akan mendorong langkah antisipasi apabila hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara memburuk atau terdapat paparan abu vulkanik. Salah satu langkah yang dapat dilakukan yakni mengurangi aktivitas masyarakat di luar ruangan.
Khusus anak-anak, Husnul mengimbau agar tidak terlalu lama berada di luar ruangan, termasuk saat berada di lingkungan sekolah.
BACA JUGA:Como Punya Danau, Batu Punya Pegunungan: Benang Merah Dua Kota Wisata
“Kami berharap anak-anak tidak terlalu lama berada di luar, di luar ruangan, di luar kelas. Pada saat pulang ataupun berangkat juga diarahkan memakai masker,” jelasnya.
Imbauan tersebut menjadi penting di tengah kondisi cuaca yang panas dan cenderung kering. Berdasarkan pantauan wartawan di sejumlah sekolah, terdapat siswa yang tidak masuk karena mengalami keluhan seperti batuk, pilek dan pusing.
Namun, keluhan tersebut belum dapat dikaitkan langsung dengan paparan asap karhutla, debu vulkanik maupun kondisi udara tertentu. Penyebab gangguan kesehatan tetap memerlukan pemeriksaan medis.