Batu Jangan Hanya Mengejar Ramai, Belajarlah Menjual Nilai dari Como 1907
Batu memiliki kesejukan karena ada lanskap yang menopangnya. Namun, pariwisata baru benar-benar bernilai saat wisatawan tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya lebih luas, menikmati pengalaman yang lebih baik, lalu pulang dengan keinginan untuk kembali.--
Batu, Jangan Hanya Kejar Ramai Tamu
ADA kota-kota yang sibuk menghitung berapa banyak orang datang.
Ada pula kota-kota yang mulai bertanya:
Setelah mereka datang, apa yang mereka tinggalkan?
Uang?
Pengalaman?
Peluang usaha?
Atau justru kemacetan, sampah, tekanan terhadap air, dan beban baru bagi alam?
Pertanyaan itu terasa relevan untuk Kota Batu.
Sebab pariwisata Batu memang terus bergerak. Jumlah kunjungan menjadi angka yang mudah dipajang. Jalanan yang padat menjadi tanda bahwa destinasi sedang diminati. Hotel yang penuh terlihat seperti kabar baik.
Tetapi pariwisata tidak selesai pada saat wisatawan tiba.
Pariwisata baru benar-benar bernilai ketika wisatawan tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya lebih luas, menikmati pengalaman yang lebih baik, lalu pulang dengan keinginan untuk kembali.
Di situlah Batu perlu belajar dari Como 1907.
Bukan terutama tentang sepak bola.
Bukan pula tentang bagaimana sebuah klub kecil Italia kembali ke panggung besar.
Sumber:

