OCD vs ADHD, Apa Bedanya? Kenali Gejala, Pola Perilaku dan Cara Penanganannya

Rabu 09-09-2026,11:01 WIB
Reporter : Fairuz Ainur Syafa Mustofa
Editor : Fairuz Ainur Syafa Mustofa

Pada ADHD, kesulitan lebih berkaitan dengan perhatian, pengendalian impuls, organisasi, dan pengaturan aktivitas. Seseorang bisa berpindah tugas, lupa menyelesaikan pekerjaan, atau bertindak spontan tanpa adanya obsesi yang mendasarinya.

2. Pola pikiran

OCD dapat membuat seseorang terjebak pada pikiran, keraguan atau dorongan yang muncul berulang dan sulit dikendalikan. Pikiran tersebut dapat memicu ritual tertentu.

ADHD lebih banyak berkaitan dengan kesulitan mempertahankan perhatian, mengatur tugas dan mengendalikan impuls. Namun, tidak semua orang dengan ADHD menunjukkan hiperaktivitas yang tampak jelas.

3. Keteraturan dan struktur

Seseorang dengan OCD dapat merasa terdorong mengikuti aturan atau ritual tertentu secara sangat spesifik. Jika ritual tidak dilakukan, tekanan psikologis dapat meningkat.

Sementara itu, orang dengan ADHD dapat mengalami kesulitan mengorganisasi aktivitas, menyelesaikan tugas dan menjaga rutinitas. Struktur eksternal justru dapat membantu mereka mengelola aktivitas sehari-hari.

Karena itu, orang yang terlihat sangat rapi belum tentu mengalami OCD. Sebaliknya, orang yang berantakan belum tentu mengalami ADHD.

Bisakah OCD dan ADHD Terjadi Bersamaan?

OCD dan ADHD dapat muncul pada orang yang sama. Namun, hubungan keduanya cukup kompleks dan gejalanya dapat saling menyerupai.

Sejumlah penelitian menunjukkan adanya kemungkinan komorbiditas OCD dan ADHD, tetapi angka kejadiannya sangat bervariasi antarpenelitian. Karena beberapa gejala OCD dapat terlihat seperti masalah perhatian, evaluasi menyeluruh diperlukan agar diagnosis tidak keliru.

Jika kedua kondisi ditemukan, penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.

Bagaimana Penanganannya?

OCD dapat ditangani melalui psikoterapi, obat-obatan atau kombinasi keduanya. Salah satu pendekatan psikoterapi yang banyak digunakan adalah exposure and response prevention atau ERP, yang merupakan bentuk terapi perilaku kognitif.

Dalam ERP, pasien secara bertahap menghadapi pemicu obsesi dalam lingkungan yang aman sekaligus belajar menahan respons kompulsif. Obat tertentu, termasuk kelompok antidepresan SSRI, juga dapat digunakan berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.

Sementara itu, penanganan ADHD dapat meliputi obat-obatan, psikoterapi dan intervensi perilaku. Terapi kognitif perilaku dapat membantu sebagian orang mengembangkan strategi untuk meningkatkan fokus, organisasi dan penyelesaian tugas.

Karena gejala kedua kondisi dapat tumpang tindih dengan gangguan lain, masyarakat sebaiknya tidak melakukan diagnosis sendiri. Jika gejala berlangsung menetap dan mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan sosial atau kehidupan sehari-hari, pemeriksaan oleh psikolog, psikiater atau tenaga kesehatan yang kompeten dapat membantu menentukan kondisi serta penanganan yang tepat.

Kategori :