Kerentanan tersebut berkaitan dengan kemampuan masyarakat dan negara dalam menghadapi bencana, termasuk kondisi sosial, ekonomi, infrastruktur, layanan kesehatan, tata kelola serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Karena itu, negara yang memiliki banyak ancaman alam belum tentu otomatis memiliki skor risiko tertinggi jika mempunyai tingkat kesiapsiagaan dan kapasitas penanganan yang lebih baik.
Indonesia Menghadapi Banyak Jenis Ancaman
Kondisi geografis Indonesia membuat jenis ancaman bencananya sangat beragam. Gempa bumi dan tsunami menjadi ancaman di kawasan yang berdekatan dengan zona subduksi.
Di sisi lain, aktivitas gunung api menjadi ancaman tersendiri. Banjir dan longsor banyak berkaitan dengan hujan ekstrem, kondisi daerah aliran sungai, perubahan penggunaan lahan dan kepadatan penduduk.
Kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan juga menjadi ancaman, terutama ketika kondisi cuaca dan iklim mendukung terjadinya periode kering panjang.
Data historis yang dihimpun dari EM-DAT dan dikutip World Bank juga menunjukkan besarnya dampak bencana di Indonesia. Dalam periode 1900–2016 tercatat sekitar 464 bencana besar dengan korban jiwa lebih dari 240.000 orang.
Salah satu bencana dengan dampak paling besar terjadi pada 26 Desember 2004, ketika gempa bumi kuat di lepas pantai Sumatera memicu tsunami besar yang menghantam sejumlah wilayah di Samudra Hindia.
Indonesia Peringkat Ketiga, Bukan Berarti Selalu Paling Parah
Peringkat ketiga WorldRiskIndex 2025 perlu dibaca sebagai gambaran risiko struktural suatu negara. Angka tersebut tidak berarti setiap wilayah Indonesia memiliki tingkat bahaya yang sama atau Indonesia selalu menjadi negara dengan jumlah korban bencana tertinggi setiap tahun.
Justru tingginya skor menjadi pengingat bahwa mitigasi perlu dilakukan sebelum bencana terjadi, mulai dari pemetaan risiko, sistem peringatan dini, penguatan bangunan dan infrastruktur, edukasi masyarakat hingga kesiapan pemerintah daerah.
Dengan kondisi geografis yang berada di kawasan aktif secara tektonik dan vulkanik, kesiapsiagaan menjadi faktor penting untuk mengurangi dampak ketika gempa, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan maupun bencana lainnya terjadi.