Selain itu, satu sekolah bisa kekurangan guru meskipun secara keseluruhan Kota Malang memiliki guru yang cukup.
Karena itu, angka 5.173 tidak boleh disebut sebagai “jumlah guru ideal Kota Malang”. Angka tersebut hanya simulasi jika seluruh kebutuhan dihitung menggunakan rasio 1:20.
Pemkot Perlu Peta Guru hingga Beberapa Tahun ke Depan
Data terbaru justru memperlihatkan bahwa tantangan Kota Malang bukan semata-mata “kurang guru”.
Persoalan yang lebih penting adalah apakah guru berada di sekolah dan bidang yang tepat.
Pemkot Malang perlu memadukan data guru dengan jumlah rombel, mata pelajaran, usia guru, status ASN, guru yang akan pensiun, serta proyeksi jumlah siswa.
Dari sana baru dapat diketahui sekolah mana yang benar-benar defisit guru dan sekolah mana yang mengalami kelebihan.
Dengan data tersebut, kebutuhan pengangkatan maupun redistribusi guru bisa dilakukan lebih tepat.
Sebab, jika 6.357 guru terlihat cukup secara statistik tetapi masih ada sekolah yang kekurangan guru, berarti masalah utamanya bukan jumlah keseluruhan melainkan distribusi dan komposisi tenaga pendidik.
BACA JUGA:Ojol Jadi UMKM, Begini Nasib Puluhan Ribu Driver Malang Raya dan Peluang Usaha Baru
Data 2026 Menunjukkan Masalahnya Lebih Kompleks
Untuk saat ini, data resmi menunjukkan 4.087 guru SD dan 2.270 guru SMP, atau total 6.357 guru, melayani 103.468 siswa.
Rasio sederhana sekitar 1:16,3.
Jadi, belum tepat menyimpulkan Kota Malang mengalami kekurangan guru secara keseluruhan.
Namun, kekhawatiran DPRD mengenai potensi kekurangan guru tetap beralasan untuk diantisipasi, terutama karena ratusan ASN memasuki masa pensiun setiap tahun.
Kuncinya adalah Pemkot Malang harus memiliki peta kebutuhan guru per sekolah dan per mata pelajaran, bukan sekadar angka total.
Dengan pemetaan tersebut, kekosongan guru bisa diketahui sebelum terjadi dan kebutuhan tenaga pendidik dapat dipersiapkan jauh lebih awal.