”Seperti mobil yang sedang ngebut, tapi diminta ngerem mendadak. Pasti oleng. Tapi beliau ini sepertinya tahu. Kalau terus seperti itu, ngebut terus malah bisa masuk jurang,” kata Dahlan.
Keputusan tersebut kemudian membawa perubahan. Setelah berhasil menyelesaikan utangnya, bisnis Syaikhul justru berkembang. Jika sebelumnya hanya menjadi agen, kini ia memiliki pabrik benih dan pupuk pertanian sendiri.
Fauzi Terjerat Utang Rp140 Miliar
Pengalaman serupa disampaikan Fauzi Priambodo. Sebelum bergabung dengan SyaREA World, ia harus berjuang menyelesaikan utang yang nilainya mencapai Rp140 miliar.
Fauzi mengaku awalnya hanya meminjam sekitar Rp2 miliar dari bank untuk mengembangkan bisnis. Namun, seiring berjalannya waktu, ia terus menambah utang demi memperluas usaha.
”Saya sudah adiktif utang,” katanya.
Masalah besar kemudian muncul pada 2020 ketika Fauzi mendapatkan tender untuk mengerjakan sebuah proyek. Proyek tersebut ternyata tidak berjalan sehingga uang yang telah dikeluarkan menjadi macet.
Kondisi itu membuat Fauzi kebingungan mencari jalan keluar. Hingga akhirnya ia bertemu dengan komunitas SyaREA World dan mendapatkan solusi untuk menyelesaikan persoalan utangnya.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjual aset.
”Saya pun menjual aset 20 toko Indomaret,” ujarnya.
Utang Bukan Alasan Menghindari Tanggung Jawab
Dari berbagai pengalaman tersebut, Dahlan melihat satu pelajaran penting. Pengusaha yang memiliki utang tetap harus bertanggung jawab menyelesaikan kewajibannya, meskipun langkah tersebut terkadang mengharuskan mereka melepas aset produktif.
Forum tersebut tidak sekadar membahas bahaya utang. Lebih jauh, pengalaman para pengusaha menjadi gambaran bahwa keterpurukan akibat utang bukan akhir dari perjalanan bisnis.
Syaikhul dan Fauzi menunjukkan bahwa setelah melewati masa sulit dan menyelesaikan kewajiban, usaha masih dapat kembali berkembang.
Pembahasan kemudian mengarah pada pertanyaan berikutnya yang menjadi penutup bagian pertama diskusi: apakah berutang dengan prinsip syariah tetap diperbolehkan?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk pembahasan selanjutnya mengenai pilihan pembiayaan dan bagaimana pengusaha menyikapi utang dalam menjalankan bisnis.