Menurut penjelasannya, istilah "wiridan" memang berkembang dalam tradisi masyarakat, termasuk masyarakat Jawa. Namun, substansi zikir setelah salat memiliki rujukan dalam ajaran Islam.
Karena itu, umat Islam tidak perlu terburu-buru menilai sebuah amalan hanya berdasarkan istilah yang digunakan.
Yang lebih penting adalah memahami bacaan dan landasan yang digunakan.
Beramal dengan Pemahaman
Gus Baha mendorong umat Islam agar menjalankan amalan dengan pemahaman terhadap dasar keagamaannya.
Wiridan tidak seharusnya dilakukan hanya karena mengikuti kebiasaan. Pemahaman terhadap tuntunan Nabi juga penting agar seseorang mengetahui apa yang sedang diamalkannya.
Sikap tersebut membuat tradisi keagamaan tidak berhenti sebagai rutinitas.
Amalan yang dilakukan dengan pemahaman juga diharapkan dapat membantu seseorang menjaga konsistensi dalam beribadah.
Menjaga Istiqamah setelah Salat
Bagi Gus Baha, waktu setelah salat merupakan kesempatan untuk tetap mengingat Allah sebelum kembali menjalani aktivitas.
Karena itu, meluangkan waktu untuk berzikir menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan ibadah.
Zikir tidak harus selalu dilakukan dalam waktu yang panjang. Amalan yang sederhana pun dapat dijaga selama dilakukan dengan kesadaran dan istiqamah.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan umat Islam agar tidak terburu-buru meninggalkan masjid atau tempat salat setelah menyelesaikan kewajiban.
Wiridan dapat menjadi penghubung antara ibadah salat dengan aktivitas berikutnya.
Melalui kebiasaan tersebut, seorang Muslim diharapkan tetap membawa kesadaran spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari.