MALANG, DISWAYMALANG.ID–Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat dan ramah bagi mahasiswa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui Sosialisasi Peraturan Rektor Nomor 48 tentang Penyelenggaraan Layanan Kesehatan Mental yang digelar pada Rabu (17/6/2026).
Kegiatan yang diikuti para dosen ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pemahaman sivitas akademika mengenai pentingnya kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi. Selain mengenalkan regulasi terbaru, sosialisasi juga memberikan bekal kepada dosen untuk lebih peka dalam mengenali berbagai persoalan psikologis yang mungkin dialami mahasiswa.
Dikutip dari laman resmi FSTeM UB, Jumat (19/6/2026), acara dibuka oleh Dekan FSTeM UB Prof Sukir Maryanto SSi MSi PhD. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa layanan kesehatan mental menjadi salah satu prioritas utama yang terus didorong oleh pimpinan Universitas Brawijaya.
BACA JUGA:Peringati Hari Bumi, Ratusan Personel Gabungan dan Warga Bersinergi Resik-Resik Kali Kebo
“Penyelenggaraan layanan kesehatan mental merupakan salah satu program prioritas rektor Universitas Brawijaya dalam mendukung terciptanya lingkungan akademik yang sehat dan kondusif bagi seluruh sivitas akademika,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab satu unit tertentu, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur fakultas untuk membangun budaya kampus yang peduli terhadap kesejahteraan mental mahasiswa.
Kegiatan ini terselenggara melalui peran aktif Unit Layanan Konseling, Perundungan dan Kekerasan Seksual (ULKPKS) FSTeM yang diketuai Prof Sri Rahayu MKes. Pelaksanaannya berada di bawah koordinasi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FSTeM Prof Chomsin Sulistya Widodo SSi MSi PhD.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi bertajuk “Penguatan Peran Dosen Pengampu dan Pembimbing Tugas Akhir dalam Membangun Wellness Kampus” yang disampaikan oleh Dian Sudiono Putri. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa dosen memiliki posisi penting dalam mendampingi mahasiswa selama menjalani proses pendidikan, mulai dari masa adaptasi hingga penyelesaian studi.
Mahasiswa semester awal, menurutnya, umumnya menghadapi tantangan berupa penyesuaian lingkungan baru, perbedaan budaya, hingga perubahan pola belajar dari sekolah ke perguruan tinggi. Sementara itu, mahasiswa tingkat akhir cenderung mengalami tekanan yang lebih kompleks akibat tuntutan penyelesaian tugas akhir, penelitian, maupun persiapan memasuki dunia kerja.
Diskusi berlangsung interaktif ketika para dosen membagikan pengalaman mereka dalam mendampingi mahasiswa dengan berbagai latar belakang persoalan. Mulai dari mahasiswa perantau yang mengalami kesulitan beradaptasi, perubahan perilaku akibat lingkungan sosial, hingga tekanan emosional yang muncul menjelang ujian skripsi.
BACA JUGA:Pesan Gus Baha Sambut Bulan Muharram: Hormati Bulan Mulia dengan Ibadah dan Kegembiraan
Dalam sesi tersebut juga ditekankan pentingnya membangun lingkungan sosial yang sehat dan suportif. Kehadiran teman sebaya yang memiliki pengalaman serupa dinilai mampu menjadi salah satu faktor pendukung yang membantu mahasiswa menghadapi berbagai tantangan akademik maupun personal.
Sementara itu, sesi kedua menghadirkan Ahmad Syafiin yang membawakan materi “Micro Skill Observasi dan Psychological First Aid (PFA) atau Dukungan Psikologis Awal”. Materi ini memberikan wawasan praktis mengenai cara mengenali tanda-tanda awal permasalahan psikologis serta langkah sederhana yang dapat dilakukan dosen sebelum mahasiswa mendapatkan bantuan profesional.
Menurut Ahmad, pendekatan yang empatik dan komunikasi yang terbuka menjadi kunci utama dalam memberikan dukungan psikologis awal. Dosen diharapkan mampu menciptakan ruang aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami tanpa rasa takut dihakimi.