Riset Doktoral UB Temukan Potensi Protein Jangkrik untuk Performa dan Imunitas Puyuh
Ujian Akhir Disertasi Anna Lidiyawati yang diselenggarakan pada Senin, 22 Juni 2026--fapet.ub.ac.id
LOWOKWARU, DISWAYMALANG.ID-Mahasiswa Program Doktor Universitas Brawijaya Anna Lidiyawati mempresentasikan hasil penelitian disertasinya dalam Ujian Akhir Disertasi yang digelar, Senin (22/6/2026) di Auditorium Pascasarjana Universitas Brawijaya. Penelitian tersebut menyoroti potensi hidrolisat protein jangkrik sebagai imunonutrien alami yang dapat mendukung kesehatan dan performa produksi burung puyuh.
Dikutip dari laman resmi FAST UB, disertasi yang berjudul “Pemanfaatan Ekstrak dan Hidrolisat Protein Jangkrik (Gryllus sp.) sebagai Imunonutrien terhadap Performa Burung Puyuh” ini mengkaji pemanfaatan jangkrik cokelat sebagai sumber protein alternatif yang berkelanjutan.
Penelitian dilakukan di bawah bimbingan Prof Dr Ir Suyadi MS IPU ASEAN Eng, Prof Dr Ir Eko Widodo MAgr Sc MSc, serta Prof Dr Ir Muhammad Halim Natsir SPt MP IPM ASEAN Eng.
Dalam penelitiannya, Anna mengolah jangkrik cokelat menjadi hidrolisat protein melalui proses hidrolisis menggunakan enzim papain pada kondisi pH 7 dan suhu 50°C selama enam jam. Produk yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai suplemen pakan pada 400 ekor burung puyuh Jepang berumur 60 hari.
Penelitian dirancang menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap. Berbagai parameter dianalisis untuk mengetahui dampak suplementasi terhadap ternak, mulai performa produksi, kualitas telur, kondisi hematologi, tingkat stres oksidatif yang diukur melalui kadar malondialdehyde (MDA), respons imun melalui ekspresi CD4 dan CD8, hingga kondisi saluran pencernaan dan komposisi mikrobiota ileum.
BACA JUGA:Internet Cepat Tanpa Upgrade Paket, Ini Tips Sederhana Atasi WiFi Lemot
Hasil pengujian menunjukkan bahwa hidrolisat protein jangkrik memiliki aktivitas biologis yang menjanjikan. Pada uji laboratorium, bahan ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan diameter zona hambat mencapai 25,6 milimeter. Temuan tersebut mengindikasikan adanya potensi hidrolisat protein jangkrik sebagai agen pendukung kesehatan ternak yang bersifat alami.
Pada tahap pengujian terhadap hewan, pemberian hidrolisat protein jangkrik tidak memberikan perubahan signifikan terhadap konsumsi pakan, produksi telur harian, maupun rasio konversi pakan. Namun demikian, perlakuan tersebut terbukti meningkatkan berat telur dan nilai Income Over Feed Cost (IOFC), yang menunjukkan potensi keuntungan ekonomi bagi peternak.
Dari aspek kesehatan, suplementasi hidrolisat protein jangkrik mampu meningkatkan jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin. Selain itu, terjadi penurunan jumlah sel darah putih dan kadar MDA yang menandakan kondisi fisiologis ternak lebih baik serta tingkat stres oksidatif yang lebih rendah.
Perbaikan juga terlihat pada kesehatan saluran pencernaan. Burung puyuh yang memperoleh suplementasi hidrolisat protein jangkrik menunjukkan perubahan positif pada struktur usus. Seperti peningkatan tinggi dan lebar vili serta kedalaman kripta. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan penyerapan nutrisi.
BACA JUGA:FKH UB Gelar CPD Anestesi Klinis dan Monitoring Pasien untuk Tingkatkan Kompetensi Dokter Hewan
Analisis mikrobiota ileum turut menunjukkan hasil menarik. Bakteri menguntungkan Ligilactobacillus aviarius ditemukan mendominasi saluran pencernaan kelompok puyuh yang menerima suplementasi hidrolisat protein jangkrik, yang mengindikasikan terciptanya lingkungan mikroba usus yang lebih sehat.
Melalui penelitian ini, Anna menyimpulkan bahwa hidrolisat protein jangkrik berpotensi menjadi imunonutrien alami yang dapat mendukung kesehatan, meningkatkan kualitas fisiologis, serta mempertahankan produktivitas burung puyuh. Hasil penelitian tersebut juga membuka peluang pemanfaatan protein serangga sebagai bahan pakan fungsional yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi penting dalam pengembangan nutrisi ternak, khususnya dalam upaya mencari alternatif pengganti antibiotik pemacu pertumbuhan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal sebagai bahan pakan berkualitas.
Sumber: fapet.ub.ac.id


