Menelisik Jejak Sejarah dan Mekarnya Industri Mawar di Desa Gunungsari

Kamis 04-06-2026,11:19 WIB
Reporter : Panca Rachmad Pamungkas
Editor : Mohammad Khakim

GUNUNGSARI, DISWAYMALANG.ID –Desa Gunungsari kini dikenal sebagai salah satu sentra produksi mawar potong terbesar yang menyuplai kebutuhan bunga nasional. Namun, di balik hamparan kebun mawar yang estetis dan bernilai ekonomi tinggi saat ini, terdapat perjalanan sejarah panjang yang berawal dari sebuah wilayah tertinggal hingga bertransformasi menjadi desa mandiri yang makmur.

​Dari Desa Tertinggal Menuju Kemandrian

​Sebelum tahun 1994, Desa Gunungsari memiliki kondisi ekonomi yang jauh berbeda dengan apa yang terlihat hari ini. Pada masa-masa sulit itu, sebagian besar masyarakat setempat sama sekali belum mengenal tanaman mawar sebagai komoditas pertanian.

“Fokus utama warga saat itu hanyalah pada sektor peternakan tradisional, seperti pemeliharaan kambing dan sapi perah, serta sektor pertanian yang terbatas pada sayur-mayur, palawija, dan hortikultura secara umum,” kata Rifat Mashadi, Kamis (4/6/2026) di lahan mawar miliknya.

BACA JUGA: Wangi Mawar di Lereng Arjuna: Dari Petani Sayur Gunungsari Menjadi Kiblat Florikultura Nusantara

​Perubahan besar mulai bergulir pada kurun waktu tahun 1994 hingga 1996. Budidaya tanaman mawar di desa ini kali pertama dipelopori oleh sebuah keluarga besar, dengan tokoh kunci utama H Sulkan, yang merupakan ayah dari Rifat Mashadi.

Sebagai pionir, H Sulkan memberanikan diri memulai proses budidaya mawar. Uniknya, penanaman awal dilakukan dengan metode tumpang sari bersama tanaman apel yang saat itu menjadi primadona. “Di lahan uji cobanya, sebagian area tetap ditanami apel, sementara sebagian lainnya mulai ditanami mawar.  Proses belajar dan tantangan pemasaran perdana,” ujar Rifat mengenang.

​Sebagai perintis, langkah H Sulkan yang akrab dipanggil Pak Haji Sulkan tidaklah mulus. Karena awalnya belum terlalu memahami karakteristik dan teknik budidaya mawar yang baik, dia memutuskan untuk menimba ilmu ke daerah Sidomulyo, desa yang bersebelahan dengan Desa Gunungsari.

BACA JUGA: 9 Makna Mawar yang Bertahan Sepanjang Zaman: Mulai Keindahan, Luka, hingga Harapan

Kawasan Sidomulyo memang sudah lama dikenal luas sebagai daerah para pakar petani bunga hias. Khususnya mawar potong dan mawar dalam media polybag.

​Setelah menyerap ilmu dari sana, Pak Haji Sulkan mulai mengembangkan mawar di lahan terbuka miliknya sendiri. Lahan pertama yang menjadi saksi bisu sejarah ini berlokasi di sekitar rumah dengan luas kurang lebih 1.300 meter persegi.

​Pada awal kemunculannya, aktivitas menanam bunga di lahan terbuka ini sempat dianggap aneh oleh masyarakat sekitar. "Warga di sini heran melihat tanaman bunga Mawar dirawat di ladang luas hanya untuk diambil bagian kelopak atau bunga dipotong segarnya saja," paparnya.

​Setelah budidaya berhasil, tantangan berikutnya hadir dari sektor pasar. Pemasaran mawar potong perdana dijayaki oleh H Sulkan di Pasar Bunga Kayoon, Surabaya sekitar tahun 1994–1996.

BACA JUGA: Gunungsari Specta Carnival 2025 Meriah, Ada Parade Bunga Mawar Segar

"Momen inilah yang menjadi titik awal dikenalkannya mawar asal Gunungsari ke ranah yang lebih luas. Pada masa itu, mawar belum langsung menjadi komoditas utama karena kebutuhan dekorasi pernikahan maupun pesta masih sangat didominasi oleh penggunaan bunga krisan dompol," paparnya.

Multiplikasi dan Era Peralihan Massal

​Keberhasilan Pak Haji Sulkan dengan konsistensinya perlahan mulai menghancurkan skeptisisme warga. Multiplikasi usaha dimulai ketika anggota keluarga besar lainnya, seperti paman dan keponakan, mulai tergiur untuk ikut menanam.

Tidak butuh waktu lama, para pekerja harian yang sering membantu di lahan Pak Haji Sulkan pun ikut tertarik. Mereka mulai menyewa lahan secara mandiri dan menyetorkan hasil panen mawar mereka ke keluarga Pak Haji Sulkan.

​Memasuki tahun 2000-an, terjadilah fenomena pelestarian massal. Masyarakat Desa Gunungsari secara sadar melihat adanya perbedaan dampak ekonomi yang signifikan antara penanaman mawar dengan penanaman sayur-mayur.

BACA JUGA: Mengenal Selecta, Wisata Legendaris Hampir Satu Abad di Kota Batu

Ketika harga sayur di pasar cenderung fluktuatif dan tidak menuntu, harga bunga mawar justru relatif stabil. Alasan stabilitas ekonomi inilah yang memicu gelombang besar pelestarian profesi warga menjadi petani mawar.

​Kebutuhan lahan yang melonjak tajam memaksa para petani asli Desa Gunungsari melakukan ekspansi ke desa-desa tetangga, seperti Desa Punten dan Desa Pandanrejo, dengan sistem sewa lahan. Aktivitas ini secara tidak langsung menularkan semangat bertani mawar kepada warga di desa tetangga yang terinspirasi setelah melihat keberhasilan lahan sewaan di dekat pemukiman mereka.

​Kondisi Terkini dan Keberagaman Varietas

​Kini di tahun 2026, produksi mawar di Desa Gunungsari telah berkembang secara masif, mencapai angka fantastis berkisar antara 60.000 hingga 70.000 kuntum bunga per hari. Jaringan pasar mereka tidak lagi sebatas Surabaya, namun telah meluas ke kota-kota besar di Indonesia seperti Semarang, Jakarta (Pasar Rawa Belong), Bandungan, Ambarawa, Malang, hingga menembus pasar Bali.

Selain mawar, komoditas pelengkap seperti daun potong untuk dekorasi (moleka, mimosa, rascus, dan philodendron) juga ikut dibudidayakan.

BACA JUGA: Selecta Diumumkan jadi Salah Satu Living Museum di Indonesia, Ini Deretan Keunikannya

​Berdasarkan data yang dihimpun dari rekaman penjelasan Rifat, mawar di Gunungsari kini memiliki varietas yang sangat kaya, baik dari bibit lokal maupun adaptasi benih luar negeri seperti Belanda (Holland), yang menyegel menjadi:

  • ​Mawar Lokal: Memiliki varietas legendaris yang sempat diberi nama langsung oleh Direktur Jenderal (Dirjen), yaitu Pergiwo (mawar merah lokal berduri) dan Pergiwati (mawar pink lokal).
  • ​Mawar Putih: Meliputi jenis Avalance, Akito, dan Enemery.
  • ​Mawar Merah: Selain Pergiwo, terdapat jenis populer seperti Grand Gala, Sexy Red, dan Red Naomi.
  • ​Mawar Warna-warni: Meliputi varietas unik seperti Candy, Dolceto (ungu), Aqua Merin (ungu), Charming Piano, Cherry Brandy, dan Confetti.

​Harapan Masa Depan dan Sinergi Pemerintah

Meskipun masyarakat Gunungsari telah berhasil mandiri secara ekonomi dan memberikan kontribusi nyata pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pajak, keinginan industri ini tetap memerlukan perhatian. Belajar dari sejarah runtuhnya kejayaan apel di Batu akibat faktor iklim dan tantangan lingkungan, masa depan komoditas mawar harus dipagari dengan strategi yang matang.

​Melalui narasumber Rifat Mashadi, para petani berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat hadir membangun sinergi. Bantuan yang diharapkan meliputi perbaikan sarana fasilitas umum seperti akses jalan yang rusak untuk memperlancar distribusi pasokan, irigasi yang stabil, hingga kecukupan udara HIPAM.

BACA JUGA: Ngarak Banteng Empu Supo XVIII Siap Digelar di Songgoriti Kota Batu

​Selain itu, petani menunggu intervensi pemerintah berupa edukasi tata kelola pertanian modern. Juga, otomatisasi sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) demi menjaga kualitas tanah, penerapan teknologi pengairan hemat air seperti di Jepang, hingga pengembangan potensi agrowisata non-panen.

Diharapkan juga intervensi terkait diversifikasi produk pascapanen (seperti bahan baku spa dan kecantikan). Petani Gunungsari kini siap melangkah ke industri pertanian yang lebih modern, profesional, dan adaptif menuju masa depan.

 

Tags :
Kategori :

Terkait