Terlemah dalam Sejarah! Kurs Rupiah Pagi Ini Jeblok ke Rp18.013 per Dollar AS
Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus Rp18.013 per dolar AS pada 4 Juni 2026. Pelemahan dipicu penguatan dolar AS hingga arus keluar modal asing.--Google--
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus merosot. Kurs rupiah telah menembus level Rp18.013 per Dollar AS berdasarkan pantauan Kamis, 4 Juni 2026, pukul 09.24 WIB. Selain terlemah dalam sejarah, angka itu juga telah menjebol batas psikologis Rp18.000 per Dollar AS yang beberapa pekan terakhir menjadi perhatian pelaku pasar.
Jika dibandingkan posisi sekitar dua pekan lalu yang masih berada di kisaran Rp17.700 per Dollar AS, dilansir Harian Disway, nilai tukar rupiah telah melemah lebih dari 300 poin. Sehari sebelumnya, Rabu 3 Juni 2026, kurs rupiah masih berada di level Rp17.916 per dolar AS. Namun hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, Dollar AS kembali menguat hingga menembus Rp18.000.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang belum mereda. Di tingkat global, investor masih memburu aset berbasis dolar AS karena ketidakpastian ekonomi dunia dan ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat.
BACA JUGA:Investor Asing Ragukan Prospek Ekonomi Domestik, Pemicu Rupiah Terus Melemah
Sikap Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish membuat aliran modal global lebih banyak mengalir ke instrumen dolar.
Sementara dari dalam negeri, tekanan datang dari derasnya arus keluar modal asing, kebutuhan pembayaran utang luar negeri korporasi, pembayaran dividen perusahaan, hingga meningkatnya permintaan valuta asing di pasar domestik.
Sebelumnya sejumlah analis juga menyoroti aksi jual bersih investor asing yang mencapai puluhan triliun rupiah sepanjang Mei 2026 sebagai salah satu faktor yang menekan pasar keuangan Indonesia.
Dampak Pelemahan Rupiah
Melemahnya nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai komoditas dan bahan baku industri yang masih bergantung pada pasokan luar negeri. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap sektor manufaktur, perdagangan, hingga pelaku UMKM yang menggunakan bahan baku impor.
BACA JUGA:Rupiah Kembali Loyo Hari Ini 19 Mei 2026, Ini Dampak bagi Masyarakat
Selain itu, pelemahan rupiah juga berisiko meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta yang menggunakan denominasi dolar AS.
Di sisi lain, eksportir berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai dolar karena pendapatan ekspor yang diterima dalam mata uang asing menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
Pasar Tunggu Respons Bank Indonesia
Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Sebelumnya BI telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Namun pasar masih menilai efektivitas kebijakan tersebut di tengah kuatnya dolar AS dan berlanjutnya arus keluar modal asing.
BACA JUGA:Dosen FEB UB Soal Rupiah yang Terus Melemah: Belum Perlu Terlalu Khawatir
Sumber:




