MALANG, DISWAYMALANG.ID – Universitas Brawijaya (UB) terus mengembangkan sistem kesehatan mental mahasiswa dengan pendekatan yang lebih proaktif, menekankan pentingnya deteksi dini serta dukungan lingkungan kampus yang responsif.
Langkah ini diwujudkan melalui penguatan layanan konseling, peningkatan kesadaran seluruh civitas akademika, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak guna menciptakan sistem penanganan yang terintegrasi.
Ketua Program Indonesia Sehat Jiwa Sofia Ambarini menjelaskan bahwa penanganan kesehatan mental tidak bisa dilakukan secara tidak merata. Menurutnya, pendekatan yang efektif harus mencakup aspek promotif, preventif, hingga rehabilitatif.
”Kami juga bekerja sama dengan layanan IGD dan tenaga ahli di RSUB sebagai bentuk penanganan krisis bagi mahasiswa,” kata Sofia, dikutip dari laman resmi Universitas Brawijaya, prasetya.ub.ac.id.
Sebagai bentuk perlindungan, UB juga menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap perundungan dan kekerasan seksual, dengan sanksi tegas bagi pelaku. Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan kampus yang aman dan mendukung kesehatan mental mahasiswa secara menyeluruh
Sebagai bentuk implementasi, UB membangun jejaring pengaman (safety net) yang melibatkan layanan internal kampus hingga dukungan eksternal. Di dalam kampus, layanan konseling menjadi garda terdepan, sementara penanganan lanjutan didukung oleh fasilitas medis seperti Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) serta kerja sama dengan Program Indonesia Sehat Jiwa.
Di sisi lain Kaprodi Psikiatri Fakultas Kedokteran UB dr Frilya Rachma Putri SKJ menyoroti kompleksitas persoalan mental yang dihadapi mahasiswa saat ini. Ia menyebut tekanan psikologis tidak muncul dari satu faktor saja, namun hasil dari berbagai aspek seperti keluarga, akademik, relasi sosial, hingga pengalaman pribadi.
Mahasiswa berada pada fase transisi menuju kedewasaan yang rentan terhadap krisis identitas. Tanpa dukungan yang memadai, kondisi ini dapat berkembang menjadi tekanan mental yang serius.
BACA JUGA:Tenaga Kependidikan FEB UB Wajib Bersertifikat Kemenaker, Kampus Genjot Standar K3L secara Masif
”Mahasiswa jarang jatuh ke dalam krisis karena satu sebab saja. Tekanan mental tumbuh dari akumulasi berbagai faktor, mulai dari keluarga, relasi, akademik, pengalaman kekerasan, hingga ketidaktahuan mencari bantuan,” kata Frilya dalam Sosialisasi Penguatan Mental Health Mahasiswa di Gedung Widyaloka Malang, Selasa (7/4/2026)
Karena itu, UB mendorong perubahan paradigma dari penanganan yang bersifat reaktif menjadi pencegahan sejak dini. Kampus diharapkan mampu mengenali tanda-tanda awal gangguan mental sebelum berkembang menjadi kondisi krisis.
”Kampus tidak bisa hanya reaktif. Kampus perlu memiliki ‘radar’, bukan sekadar ‘ambulans’. Artinya, kita harus mampu membaca sinyal awal sebelum krisis benar-benar terjadi,” imbuhnya
UB juga menekankan pentingnya peran seluruh elemen kampus sebagai pendengar aktif. Selain itu, penguatan sistem dilakukan melalui penyediaan akses pembiayaan layanan kesehatan seperti BPJS, serta penyusunan alur rujukan yang jelas bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan lanjutan.
Sejak 2017, UB telah menyediakan layanan konseling gratis bagi mahasiswa. Namun, menurut Frilya layanan tersebut perlu diperkuat dan diperbaiki lagi.