TEL AVIV, DISWAYMALANG.ID– Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, kebanjiran kecaman internasional dari negara-negara Arab dan Islam pada hari Minggu, 22 Februari 2026. Dia mengisyaratkan bahwa Israel memiliki hak alkitabiah (biblical klaim) atas petak wilayah yang luas di Timur Tengah, mulai dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Suriah dan Irak.
Pernyataan tersebut dilontarkan Huckabee dalam podcast milik komentator sayap kanan Amerika Serikat (AS) Tucker Carlson yang dirilis, Jumat lalu (20/2/2026). Saat ditekan oleh Carlson mengenai makna ayat Alkitab yang sering ditafsirkan bahwa Israel berhak atas wilayah luas tersebut, Huckabee memberikan jawaban yang memicu kemarahan publik.
"Akan baik-baik saja jika mereka (Israel,Red) mengambil semuanya (wilayah mulai dari Sungai Nil di selatan hingga Efrat di utara,Red)," ujar Huckabee dalam wawancara tersebut dikutip dari harian.disway.id.
Pernyataan Mike Huckabee ini merujuk pada penafsiran ayat dalam Alkitab, tepatnya pada Kitab Kejadian 15:18, yang menyebutkan janji Tuhan kepada keturunan Abraham mengenai wilayah tanah mulai dari "sungai Mesir" (sering diidentikkan dengan Sungai Nil) hingga "sungai besar, sungai Efrat".
Dalam beberapa diskursus modern, konsep ini dikenal sebagai "Israel Raya" (Greater Israel), yang menjadi landasan bagi sebagian kelompok untuk mengklaim hak historis dan religius Israel atas cakupan wilayah yang jauh melampaui batas negara mereka saat ini.
BACA JUGA:Tanpa Iuran Rp15,86 T, Indonesia Resmi Jadi Anggota Tetap Board of Peace
Peta wilayah dalam konsep Greater Israel yang menujukkan wilayah dari sungai Nil hingga Efrat-Wikimedia Commons---
Namun, pada era modern, penafsiran wilayah tersebut bermasalah karena mencakup kedaulatan beberapa negara berdaulat di Timur Tengah. Secara geografis, bentangan dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat meliputi seluruh wilayah Palestina dan Lebanon, sebagian besar wilayah Suriah dan Yordania, serta sebagian wilayah Mesir, Irak, Arab Saudi, hingga Turki.
Oleh karena itu, dukungan terhadap klaim ini dianggap sebagai ancaman serius bagi stabilitas geopolitik dan kedaulatan nasional negara-negara di kawasan tersebut.
Meski kemudian ia menambahkan bahwa Israel tidak benar-benar meminta untuk mengambil seluruh wilayah itu dan menyebut pernyataannya sebagai sebuah "hiperbola", reaksi keras tetap tidak terhindarkan.
Kecaman Dunia Arab
Sejumlah negara-negara Arab dan Islam, bersama tiga organisasi regional utama, merilis pernyataan bersama yang mengutuk komentar diplomat AS tersebut sebagai tindakan yang "berbahaya dan provokatif".
Sungai Efrat yang membelah Turki, Syria, dan Iraq diklaim sebagai batas paling utara dari tanah yang dijanjikan pada bangsa Israel dalan konsep kontroversial -Bakr Alkasem/AFP---
Pernyataan bersama yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) ini ditandatangani oleh UEA, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Oman, Bahrain, Lebanon, Suriah, dan Negara Palestina. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Arab, dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) juga turut serta dalam kecaman tersebut.