Ramadan, Dunia, dan Kesadaran Bawah Sadar

Selasa 17-02-2026,09:55 WIB
Reporter : Prof. Triyo Supriyatno*
Editor : Mohammad Khakim

Dunia adalah ketika makna diri ditentukan oleh pengakuan sosial.

Dunia adalah ketika kesibukan menenggelamkan kesadaran.

Ramadan menggugat semua itu.

Ia menghadirkan lapar agar manusia merasakan rapuhnya tubuh. Ia menghadirkan malam-malam panjang agar manusia menyadari sunyinya jiwa. Ia menghadirkan Al-Qur’an agar manusia kembali berdialog dengan dirinya sendiri.


Ramadan menghadirkan malam-malam panjang agar manusia menyadari sunyinya jiwa.. -ilustrasi Canva--

Dalam hiruk-pikuk dunia modern, manusia sering kehilangan percakapan paling penting: percakapan dengan batinnya sendiri.

Kita berbicara banyak, tetapi jarang merenung.

Kita terhubung secara digital, tetapi terasing secara eksistensial.

Ramadan memperbaiki ritme itu.

Ia menggeser pusat gravitasi hidup: dari luar ke dalam, dari gaduh ke hening, dari konsumsi ke kontemplasi. Tidak mengherankan jika banyak orang merasakan ketenangan khas Ramadhan —ketenangan yang sulit dijelaskan, tetapi nyata dirasakan.

Ketenangan itu bukan hasil dari perubahan dunia luar, tetapi perubahan relasi batin dengan dunia.

Al-Qur’an memberi peringatan keras tentang konsekuensi orientasi yang keliru:

﴿فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى﴾

“Maka sungguh, Jahim-lah tempat tinggalnya.”

Namun, penting dipahami: bahasa Al-Qur’an bukan sekadar ancaman, tetapi cermin. Ia menunjukkan bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi ontologis. Kehidupan yang sepenuhnya dikuasai nafsu dan ilusi waktu akan berujung pada kegelisahan, kehampaan, dan keterasingan —bahkan sebelum berbicara tentang dimensi eskatologis.


Bahasa Al-Qur’an bukan sekadar ancaman, tetapi cermin. Ia menunjukkan bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi ontologis. -ist--

Tags :
Kategori :

Terkait