Panjang angan-angan adalah ilusi psikologis paling canggih dalam diri manusia. Ia membuat seseorang merasa memiliki waktu yang tak terbatas. Ia menunda taubat dengan bisikan yang lembut: “Nanti saja.” Ia menunda kebaikan dengan logika yang tampak rasional: “Belum waktunya.” Ia menunda perubahan dengan keyakinan yang terasa meyakinkan: “Masih panjang umur.”
Padahal, yang paling misterius dalam hidup manusia justru waktu itu sendiri.
Kita hidup pada era yang memuja kecepatan, tetapi paradoksnya justru penuh penundaan. Kita ingin segalanya instan, tetapi menunda hal-hal paling mendasar: memperbaiki diri, menata hati, merapikan relasi, mendamaikan konflik batin.
Di media sosial, manusia tampak berlari. Dalam kehidupan nyata, banyak yang sesungguhnya menunggu —menunggu versi diri yang tak pernah benar-benar dikerjakan.
Ramadan datang sebagai kritik sunyi terhadap mentalitas ini.
Puasa, pada hakikatnya, bukan sekadar latihan menahan lapar. Ia adalah disiplin terhadap keinginan. Manusia modern terbiasa hidup dalam kultur pemuasan segera: ingin makan, pesan; ingin hiburan, klik; ingin validasi, unggah. Semua bergerak dalam logika instan.
Puasa, pada hakikatnya, bukan sekadar latihan menahan lapar. Ia adalah disiplin terhadap keinginan. -ilustrasi pinterest--
Puasa mematahkan logika itu.
Ia mengajarkan bahwa tidak semua dorongan harus diikuti. Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Tidak semua impuls layak dituruti. Ada nilai dalam menunda. Ada makna dalam menahan. Ada kebijaksanaan dalam berkata “cukup”.
Lebih jauh, Ramadan juga memendekkan angan-angan.
Anehnya, setiap Ramadan kita selalu dikejutkan oleh perasaan yang sama: “Kok cepat sekali?” Seolah-olah baru kemarin tarawih pertama, tiba-tiba sudah malam-malam terakhir. Baru saja sahur terasa berat, tiba-tiba takbir berkumandang.
Ramadan adalah miniatur kehidupan.
Ia singkat, terasa cepat, dan sering kali baru disadari nilainya ketika hampir berakhir. Persis seperti hidup manusia. Kita sering merasa waktu masih panjang, sampai suatu hari kita tersadar bahwa banyak hal penting ternyata belum sempat dikerjakan.
Di titik ini, ayat tentang “mengutamakan dunia” menemukan relevansinya yang paling konkret.
Mengutamakan dunia hari ini tidak selalu berarti hidup dalam kemewahan. Banyak orang sederhana yang sangat duniawi. Sebaliknya, banyak orang berkecukupan yang justru sangat sadar akhirat. Dunia bukan ukuran ekonomi, namun orientasi eksistensial.
Dunia adalah ketika hidup hanya diukur dari capaian lahiriah.