Kita harus berani mengakui bahwa keduanya memiliki dasar syar'i dan logika yang kuat. Jika Anda ikut penetapan pemerintah (MABIMS/Rukyat), Anda menjaga kebersamaan jemaah. Jika Anda ikut Hisab, Anda mempraktikkan integrasi ilmu pengetahuan dalam agama. Keduanya sama-sama mulia.
BACA JUGA:UIN Maliki Malang Kukuhkan 11 Guru Besar, Wayang Diangkat sebagai Media Pendidikan Islam
"Jangan sampai energi kita habis untuk meributkan kapan pintu awal puasa atau Ramadan dibuka, sampai kita lupa apa yang harus kita lakukan di dalam bulan suci dan 'rumah' Ramadan itu sendiri."
Kesimpulannya: Perbedaan metode adalah keniscayaan ijtihad. Yang paling penting bukan pada hari apa kita mulai menahan lapar, tapi sejauh mana puasa kita berhasil menahan ego untuk tidak merasa paling benar. Mari kita rayakan perbedaan ini dengan rasa bersyukur, bukan dengan saling menyalahkan.
*Penulis adalah Guru Besar Bidang Ilmu Komputer UIN Mulana Malik Ibrahim Malang