Lalat, Ancaman Kecil yang Bisa Berdampak Besar bagi Kesehatan dan Produktivitas Ternak Sapi di Indonesia

Senin 26-01-2026,07:51 WIB
Reporter : drh. Shelly Kusumarini R., M.S
Editor : Mohammad Khakim

Selain itu, peternak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan ternak yang sakit, pembelian obat atau insektisida, serta tenaga ekstra untuk membersihkan kandang. Jika terjadi wabah penyakit, kerugian dapat menjadi jauh lebih besar, termasuk risiko kematian ternak.

Populasi dan Pengendalian Lalat di Peternakan


Kotoran ternak, sisa pakan, genangan air, dan limbah organik menjadi tempat ideal bagi lalat untuk bertelur dan berkembang. –dok. lab parasitologi veteriner fkh ub--

Populasi lalat yang tinggi di peternakan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Lalat menyukai tempat yang hangat, lembap, dan kaya bahan organik. Kotoran ternak, sisa pakan, genangan air, dan limbah organik lainnya menjadi tempat ideal bagi lalat untuk bertelur dan berkembang.

Selain itu, lalat lebih aktif pada siang hari ketika suhu hangat dan cahaya cukup. Inilah sebabnya mengapa kandang dengan sanitasi kurang baik dan pengelolaan limbah yang buruk hampir selalu dipenuhi lalat.

Menghadapi masalah ini, pengendalian lalat tidak dapat dilakukan secara instan atau hanya mengandalkan penyemprotan insektisida. Pendekatan yang dianjurkan adalah pengelolaan terpadu (integrated pest management/IPM), yaitu upaya pengendalian lalat melalui kombinasi perbaikan sanitasi, pemantauan, dan intervensi yang tepat sasaran.

Kotoran ternak perlu dibersihkan secara rutin, sisa pakan tidak dibiarkan menumpuk, genangan air dikeringkan, dan saluran drainase diperbaiki agar tidak menjadi tempat berkembang biak lalat.

Selain itu, pemantauan jumlah lalat dan perilaku sapi perlu dilakukan secara rutin. Jika sapi mulai sering mengibaskan ekor, menghentakkan kaki, atau tampak gelisah, itu bisa menjadi tanda awal bahwa gangguan lalat mulai meningkat.


Kegiatan monitoring kandang oleh tim FKH UB. -dok. fkh ub--

Secara praktis, infestasi dapat dianggap perlu diwaspadai jika jumlah lalat di punggung sapi mencapai sekitar 15 ekor lalat kandang atau sekitar 200 ekor lalat tanduk per ekor sapi. Perangkap lalat dapat digunakan untuk menurunkan populasi lalat dewasa sekaligus sebagai alat pemantauan. Penggunaan insektisida tetap diperlukan dalam kondisi tertentu, tetapi sebaiknya dilakukan secara selektif dan bergantian jenisnya agar tidak memicu resistensi.

Beberapa peternak juga mulai memanfaatkan pendekatan yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan tanaman pengusir serangga (misalnya serai wangi, pandan, bawang putih), minyak nabati tertentu, pemanfaatan musuh alami lalat, atau pemasangan penghalang fisik seperti jaring dan tirai plastik di pintu kandang. Pendekatan-pendekatan ini membantu menekan populasi lalat tanpa terlalu bergantung pada bahan kimia.

Pada akhirnya, lalat memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya dari lingkungan peternakan, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Namun, dengan pengelolaan yang tepat, dampak negatif lalat dapat ditekan hingga tidak merugikan ternak dan peternak.

Kesadaran bahwa lalat bukan sekadar gangguan kecil, tetapi faktor penting yang memengaruhi kesehatan dan produktivitas ternak, menjadi langkah awal menuju peternakan yang lebih sehat, sejahtera, dan berkelanjutan.

* Penulis adalah asisten ahli parasitologi veteriner–ektoparasit Laboratorium Parasitologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya

Kategori :