Lalat, Ancaman Kecil yang Bisa Berdampak Besar bagi Kesehatan dan Produktivitas Ternak Sapi di Indonesia
Lalat, ancaman kecil bisa berdampak besar bagi kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas ternak sapi di Indonesia. -dok. lab parasitologi veteriner fkh ub--
INDONESIA sebagai negara tropis memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, termasuk keanekaragaman lalat yang hidup di sekitar manusia dan ternak. Di lingkungan peternakan, lalat merupakan salah satu organisme yang paling sering dijumpai dan memiliki dampak besar terhadap kesehatan ternak, kesejahteraan hewan, serta produktivitas dan ekonomi peternakan.
Keberadaan lalat dalam jumlah tinggi di kandang tidak hanya menimbulkan gangguan fisik dan stres pada ternak, tetapi juga berperan sebagai vektor berbagai penyakit infeksius yang dapat menurunkan performa produksi bahkan menyebabkan kematian. Oleh karena itu, lalat menjadi salah satu faktor penting yang perlu dimonitor dan dikelola secara serius dalam sistem peternakan berkelanjutan di Indonesia.
Dua Kelompok Lalat di Peternakan
Lalat lalat rumah dan lalat wajah sering hinggap di mata, hidung, mulut, kaki, luka, pakan, dan kotoran ternak, menyebabkan iritasi dan menyebarkan kuman secara pasif. –dok. lab parasitologi veteriner fkh ub--
Di lingkungan peternakan, lalat umumnya dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama. Pertama adalah lalat pengganggu, seperti lalat rumah (Musca domestica) dan lalat wajah (Musca autumnalis), yang sering hinggap di mata, hidung, mulut, luka, pakan, dan kotoran ternak. Kedua adalah lalat pengisap darah, seperti lalat kandang (Stomoxys calcitrans) dan lalat tanduk (Haematobia irritans).
Kelompok pertama menyebabkan iritasi dan menyebarkan kuman secara pasif. Sementara kelompok kedua menyebabkan nyeri, kehilangan darah, serta menularkan penyakit melalui gigitan.
Dampak Lalat terhadap Sapi
drh. Shelly Kusumarini R., M.Si -ist--
Dampak lalat terhadap ternak bersifat langsung maupun tidak langsung. Dampak yang paling mudah terlihat adalah stres dan ketidaknyamanan. Sapi yang terganggu lalat akan terus-menerus mengibaskan ekor, telinga, menghentakkan kaki, menggelengkan kepala, dan menggetarkan kulit untuk mengusir lalat.
Gerakan itu tampak sepele, tetapi jika terjadi sepanjang hari, sapi akan kehilangan banyak energi, waktu makan berkurang, dan waktu istirahat terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan nafsu makan, memperlambat pertumbuhan, serta menurunkan produksi susu.
Pada lalat pengisap darah, dampaknya bisa lebih serius. Gigitan lalat menyebabkan rasa sakit dan luka kecil di kulit. Jika terjadi dalam jumlah besar dan terus-menerus, sapi dapat mengalami kehilangan darah yang berujung pada anemia ringan, penurunan kondisi tubuh, dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit.
Luka akibat gigitan juga dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri dan jamur, sehingga memicu infeksi sekunder, termasuk myiasis. Myiasis adalah infestasi larva lalat (belatung) pada jaringan tubuh hewan yang masih hidup, biasanya terjadi pada luka terbuka atau area tubuh yang lembap dan kotor.
Larva memakan jaringan atau cairan tubuh sehingga memperparah luka dan memicu infeksi. Gejalanya meliputi penurunan nafsu makan, rasa tidak nyaman atau gelisah, demam, bau tidak sedap dari luka, keluarnya cairan atau nanah, luka yang membesar dan sulit sembuh, pada kasus berat dapat berujung pada kematian bila tidak ditangani.
Lalat lalat rumah dan lalat wajah sering hinggap di mata, hidung, mulut, luka, pakan, dan kotoran ternak, menyebabkan iritasi dan menyebarkan kuman secara pasif. –dok. lab parasitologi veteriner fkh ub--
Selain itu, lalat berperan sebagai pembawa berbagai agen penyakit. Lalat pengganggu dapat membawa bakteri dan virus di tubuhnya lalu memindahkannya ke pakan, luka, atau bagian tubuh ternak lain.
Sementara lalat pengisap darah dapat menularkan penyakit secara langsung melalui air liurnya saat menggigit. Penyakit yang berkaitan dengan keberadaan lalat antara lain radang mata (pink eye), diare infeksius, antraks, trypanosomiasis, mastitis, myiasis, dan bovine ephemeral fever (BEF). Penyakit-penyakit ini bukan hanya merugikan satu atau dua ekor ternak, tetapi dapat menyebar cepat dan menimbulkan kerugian besar dalam satu peternakan.
Sumber:
