1 tahun disway

Generasi Muda Belajar Investasi melalui YouTube, Akademisi Bilang Perbanyak Literasi

Generasi Muda Belajar Investasi melalui YouTube, Akademisi Bilang Perbanyak Literasi

Ilustrasi YouTube--shutterstock

MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, masyarakat Indonesia semakin sadar pentingnya memiliki penghasilan tambahan melalui investasi

Selain menjaga nilai uang agar tidak tergerus inflasi, investasi kini dianggap sebagai langkah strategis untuk membangun masa depan finansial yang lebih stabil.

Menurut survei daring Snapcart pada April 2025 yang melibatkan 4.130 responden, mayoritas masyarakat menganggap investasi penting, sebesar 63 persen mengatakan sangat penting, dan 34 persen cukup penting. Hanya sedikit yang menganggapnya kurang relevan.

Yang menarik, YouTube muncul sebagai platform utama masyarakat belajar investasi. Sebanyak 46 persen responden mengaku memperoleh pengetahuan investasi dari platform berbagi video tersebut. 

Ini menandakan perubahan pola belajar masyarakat, di mana edukasi finansial kini dapat diakses dengan gratis dan mudah hanya lewat gawai.

Selain YouTube, sumber belajar lainnya mencakup lingkungan sosial (teman dan keluarga), buku, hingga kursus. Namun, masih ada 17 persen responden yang belum tertarik mempelajari investasi.

Tren ini mencerminkan dua sisi, yakni yang pertama meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi dan pentingnya pemahaman sebelum terjun langsung. Sebab, keputusan finansial yang tidak disertai pengetahuan bisa berujung kerugian. 

Yang kedua, edukasi yang mendalam perlu ditekankan agar investasi tidak hanya jadi tren, melainkan juga alat strategis menuju kestabilan ekonomi pribadi.

Bukan Tren Sementara, Tapi Strategi Jangka Panjang

Bagaimana pandangan akademisi terhadap fenomena ini?

Venus Kusumawardana, selaku praktisi Perbankan dan Keuangan, Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengingatkan akan jebakan psikologis dalam dunia investasi. 

Banyak pemula yang justru terjerumus dalam aktivitas spekulatif seperti trading harian atau membeli saham yang sedang viral, tanpa menilai kelayakan fundamentalnya.

"Popularitas saham bukan jaminan kualitas. Harga yang murah bisa menipu jika tidak disertai laporan keuangan yang sehat atau potensi bisnis yang jelas," tegas Venus.

Lebih dari sekadar keberanian berinvestasi, kesiapan mental dan literasi keuangan menjadi hal esensial.

BACA JUGA:20 Mei Juga World Metrology Day, Pengingat Pentingnya Ilmu Ukur sebagai Fondasi Peradaban

Literasi Sebelum Inklusi

Sumber: snapchart