Puthuk Tritih Batu Terancam Kehilangan Pesona, Kafe Terus Bermunculan
Sebuah bangunan kafe di Putuk Tritih Desa Sumberejo Kecamatan Batu Kota Batu -Sholeh/Diswaymalang-
BATU, DISWAYMALANG.ID-Kepala Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Riyanto, Jumat (6/11/2026), mengatakan viralnya Puthuk Tritih adalah berkah sekaligus ujian terberat. Ia bangga kawasan yang selama ini hanya dikenal warga lokal kini menjadi magnet baru wisata dan spot favorit menikmati senja. Namanya disebut di media sosial, pengunjung datang dari berbagai daerah, dan ekonomi desa ikut bergerak.
Namun di sisi lain, ia resah. Setiap minggu, ia melihat satu per satu bangunan semipermanen hingga permanen bermunculan di atas lahan pertanian. Kafe dan gazebo berdiri, menutupi panorama alam yang justru menjadi alasan orang datang ke Puthuk Tritih.
BACA JUGA:Talang Pasar Among Tani Batu Bocor, Pemkot Siapkan Rp200 Juta
Sebagai kepala desa, ia berada di garis depan. Ia yang paling sering menerima keluhan warga, pertanyaan pengunjung, dan sekaligus desakan dari pemilik lahan. Namun di saat yang sama, kewenangannya sangat terbatas.
Riyanto tidak menutup-nutupi fakta di balik masifnya pembangunan kafe tersebut. Menurutnya, lahan-lahan pertanian itu kini banyak disewakan oleh pemiliknya kepada pengelola dari luar daerah. Mereka ingin meraup keuntungan ekonomi yang lebih tinggi.
Ia memahami betul alasan para petani. Banyak petani lokal yang memilih menyewakan atau bahkan menjual tanah mereka. Hal itu karena tawaran harga yang sangat menggiurkan, dan karena kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda.
BACA JUGA:TPS 3R Sumbergondo Siapkan Inovasi Kompos Campuran Kohe
"Karena urusannya dengan kebutuhan jadi sulit dikendalikan," terang Riyanto.
Sebagai kepala desa, Riyanto tidak bisa menyalahkan warganya. Ia tahu betul bagaimana rasanya bertani dengan hasil yang tidak pasti. Sementara tawaran sewa lahan datang dengan uang tunai di depan. Ia tahu bahwa di balik setiap petak lahan yang disewakan, ada kebutuhan sekolah anak, biaya berobat, atau cicilan yang harus dibayar.
Yang paling membuat Riyanto prihatin adalah perubahan lanskap Puthuk Tritih itu sendiri. Ia menceritakan, para pedagang kaki lima (PKL) maupun pengelola kini menyewa lahan petani secara pribadi.
"Penyewa memetak-metakannya untuk dibangun kafe lengkap dengan gazebo. Bangunannya tidak lagi sekadar warung kecil, tetapi sudah menyerupai rumah," imbuhnya.
BACA JUGA:Siswa SDI Khairu Ummah Belajar Pilah Sampah dan Tanam Stroberi
Salah satu syarat utama yang selalu ia tekankan kepada pengelola adalah penyediaan lahan parkir di area dalam agar tidak mengganggu badan jalan. Namun soal tata letak, ketinggian bangunan, dan seberapa besar view yang tertutup, ia tidak punya aturan yang bisa dijadikan pegangan.
Sumber:









