2 tahun Disway Malang

Salat Lebih Indah daripada Nikmat Dunia, Ini Analogi Gus Bahayang Bikin Paham

Salat Lebih Indah daripada Nikmat Dunia, Ini Analogi Gus Bahayang Bikin Paham

Ilustrasi Gus Baha dalam sebuah pengajian di Lirboyo, Kediri. -youtube simpedia--

MALANG, DISWAYMALANG.ID – Mengapa salat seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban? Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menjelaskan bahwa kenikmatan ibadah tidak selalu bisa diukur dengan kesenangan yang dirasakan tubuh.

Dalam pengajian yang disampaikan di Masjid Menara Kudus, ulama ahli tafsir Al-Qur’an itu mengajak jemaah memahami bahwa ada kenikmatan rohani yang lebih dalam daripada kesenangan fisik. Untuk menjelaskannya, Gus Baha menggunakan analogi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ia bahkan membandingkan kenikmatan hubungan biologis dengan kebahagiaan orang tua ketika anaknya sembuh dari sakit atau kembali setelah hilang. Perbandingan tersebut digunakan untuk membantu jemaah memahami bahwa ukuran kenikmatan tidak selalu sesederhana yang dibayangkan.

Gus Baha: Salat Bukan Sekadar Beban

Gus Baha menyoroti cara sebagian orang memandang salat seolah-olah ibadah tersebut hanya menjadi beban. Padahal, menurutnya, ada dimensi rohani yang tidak akan dipahami jika manusia hanya melihat sesuatu dari sisi kesenangan fisik.

Ia mengisahkan para wali yang digambarkan begitu mencintai salat. Ketika ditawari surga, pertanyaan mereka justru bukan tentang fasilitas atau kenikmatan yang akan diperoleh.

“Ya Allah, di surga ada salat gak? Kalau gak ada saya gak mau,” demikian pertanyaan yang dikisahkan Gus Baha tentang para wali.

Gus Baha kemudian membandingkan sikap tersebut dengan cara pandang orang yang justru ingin masuk surga tanpa perlu salat.

“Kalau Sampean pasti gak tanya gitu. Sampean malah gini, enakmu suargo, ora usah salat,” tuturnya dengan gaya khas yang diselingi humor.

Lewat perbandingan itu, Gus Baha mengingatkan bahwa salat semestinya tidak selalu dipahami sebagai kewajiban yang memberatkan. Ibadah juga bisa menjadi bentuk kecintaan dan kerinduan seorang hamba kepada Allah.

Analogi Gus Baha: Kebahagiaan Anak Sembuh dari Sakit

Untuk menerangkan perbedaan kenikmatan fisik dan rohani, Gus Baha mengutip sebuah analogi yang disampaikan seorang ulama. Analogi itu bermula dari pertanyaan tentang mengapa salat bisa dipandang lebih indah daripada kenikmatan hubungan biologis.

“Kenapa salat itu lebih indah ketimbang nikmat al-wiqa?” ujar Gus Baha, mengulang pertanyaan tersebut.

Ia lalu menyampaikan jawaban yang sederhana. Kebahagiaan orang tua tidak hanya muncul ketika mendapatkan kesenangan pribadi, tetapi juga ketika anak yang sakit akhirnya sembuh atau anak yang hilang ditemukan kembali.

Sumber: youtube santri ulama

Berita Terkait