2 tahun Disway Malang

Gus Baha: Kunci Surga Sudah Diberikan, Soal Munkar-Nakir Juga Sudah 'Dibocorkan' (6)

Gus Baha: Kunci Surga Sudah Diberikan, Soal Munkar-Nakir Juga Sudah 'Dibocorkan' (6)

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menjelaskan kunci surga dan bocorna soal dari Munkar Nakir. -Youtube @kajianislampopuler--

MALANG, DISWAYMALANG.ID - Gus Baha punya cara jenaka untuk menjelaskan betapa mudahnya jalan menuju keselamatan dalam Islam. KH Ahmad Bahauddin Nursalim, pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang, menyebut miftahul jannah atau kunci surga telah diajarkan kepada umat Islam: la ilaha illallah.

Menurut Gus Baha, karena kunci surga sudah diberikan, manusia seharusnya tidak berlebihan dalam membayangkan agama sebagai sesuatu yang selalu sulit. “Miftahul jannah, la ilaha illallah,” ujarnya.

Gus Baha lalu bergurau bahwa masuk neraka justru terasa aneh jika menggunakan logika “kunci”. Sebab kunci surga sudah diberikan, sedangkan manusia tidak pernah diberi “kunci neraka”.

Soal Munkar-Nakir Sudah “Dibocorkan”

Gus Baha kemudian menceritakan kisah seseorang yang bertanya kepadanya tentang pertanyaan Munkar dan Nakir. Orang itu membandingkannya dengan soal ujian sekolah. Kalau guru membocorkan soal ujian kepada murid, tentu menjadi persoalan.

Lalu Gus Baha membuat perbandingan yang menggelitik: para kiai sebenarnya sudah “membocorkan” pertanyaan Munkar dan Nakir. Bukankah sejak kecil manusia sudah diajari: siapa Tuhanmu, siapa nabimu dan apa agamamu?

Karena itu, menurut logika humor Gus Baha, kalau seseorang masih bingung ketika menghadapi pertanyaan tersebut, persoalannya bukan lagi karena soal tidak diketahui. Soalnya sudah diajarkan berkali-kali.

Agama Tidak Selalu Harus Dibuat Sulit

Di balik guyonan tersebut ada pesan yang lebih serius. Gus Baha ingin menunjukkan bahwa Islam memiliki banyak pintu kemudahan.

Allah sendiri berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 185 bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi manusia dan tidak menghendaki kesukaran bagi mereka.

Namun kemudahan bukan berarti manusia boleh meremehkan agama. Justru karena jalan kebaikan telah dijelaskan, manusia tinggal mengamalkannya.

Gus Baha bahkan mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu sibuk membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit.

Ia merasa sebagai orang yang belajar banyak kitab, dirinya justru sering harus menjelaskan berbagai perbedaan. Sementara masyarakat awam terkadang cukup mengamalkan hal-hal sederhana yang sudah jelas.

Di situlah letak kegelisahan khas Gus Baha: ilmu seharusnya membantu manusia menemukan jalan kebaikan, bukan membuat agama terasa semakin jauh dari kehidupan.

Sumber: youtube @kajianislampopuler

Berita Terkait