Gus Baha: Tasbih Mengajarkan Kita Menerima Semua Ciptaan Allah (5)
Ilustrasi Gus Baha dalam pengajian tentang tauhid yang digelar Bayt Al-quran, lembaga di bawah naungan Kemenag RI. -youtube baty al-quran--
MALANG, DISWAYMALANG.ID - Mengucapkan Subhanallah wa bihamdihi ternyata tidak hanya soal memperbanyak dzikir. Menurut KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, tasbih juga bisa melatih manusia melihat seluruh ciptaan Allah dengan cara yang lebih luas.
Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang itu memberi contoh sederhana. Ada sesuatu yang menurut manusia menjijikkan, tetapi belum tentu menjijikkan bagi makhluk lain. Kotoran sapi, misalnya, bisa membuat orang merasa jijik. Tetapi bagi orang yang ahli pupuk, kotoran tersebut justru memiliki manfaat.
Begitu pula bangkai katak. Manusia mungkin tidak menyukainya. Tetapi bagi ayam, sesuatu yang dianggap menjijikkan manusia itu bisa menjadi makanan.
Dari contoh sederhana tersebut, Gus Baha mengajak jamaah memahami bahwa penilaian manusia terhadap sesuatu tidak selalu mewakili keseluruhan hikmah ciptaan Allah.
Tasbih Bukan Hanya untuk Makhluk yang Kita Sukai
Gus Baha kemudian mengaitkannya dengan dzikir yang diajarkan Nabi Muhammad saw:
Subhanallahi wa bihamdihi 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata 'arsyihi, wa midada kalimatihi.
Di antara maknanya adalah memuji dan menyucikan Allah sebanyak bilangan seluruh makhluk-Nya.
“Semua makhluk yang diciptakan Allah,” demikian inti penjelasan Gus Baha. Termasuk makhluk yang mungkin tidak kita sukai.
Di sini letak latihan batinnya. Manusia sering hanya mudah mengakui kebesaran Allah ketika melihat sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Padahal Allah adalah Rabb seluruh ciptaan, bukan hanya ciptaan yang menurut selera manusia indah.
Pesan tersebut selaras dengan QS Al-A'la ayat 1–3. Allah memerintahkan manusia menyucikan nama Tuhan Yang Maha Tinggi, kemudian menyebut bahwa Dia yang menciptakan, menyempurnakan, menetapkan ukuran dan memberi petunjuk.
Artinya, penciptaan, ketetapan dan petunjuk berada dalam ilmu dan kehendak Allah. Manusia tidak selalu mengetahui seluruh fungsi dan hikmah sesuatu hanya dari penilaian awalnya.
Jangan Mengukur Ciptaan Allah Hanya dari Selera
Gus Baha menggunakan perumpamaan yang sangat sederhana agar persoalan tasbih tidak terasa abstrak.
Sumber:


