1 tahun disway

Hyperhidrosis: Penyebab Keringat Berlebih yang Bisa Muncul Meski Tubuh Tidak Kepanasan

Hyperhidrosis: Penyebab Keringat Berlebih yang Bisa Muncul Meski Tubuh Tidak Kepanasan

Gambaran Fenomena hyperhidrosis atau keringat berlebihan --Skin Center of South Miami

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Hyperhidrosis merupakan kondisi medis yang menyebabkan seseorang mengalami produksi keringat secara berlebihan meskipun tubuh tidak sedang membutuhkan pendinginan. Kondisi ini berbeda dari keringat normal yang muncul akibat cuaca panas, olahraga, atau aktivitas berat.

Penderita hyperhidrosis dapat mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak ketika berada di ruangan dingin, sedang beristirahat, bahkan saat tidak melakukan aktivitas fisik. Kondisi tersebut terjadi karena kelenjar keringat ekrin bekerja secara berlebihan akibat adanya stimulasi terus-menerus dari sistem saraf simpatis.

Dilansir dari kemkes.go.id, sistem saraf simpatis berperan dalam mengatur berbagai respons tubuh, termasuk produksi keringat. Pada penderita hyperhidrosis, sistem tersebut mengalami gangguan sehingga kelenjar keringat menghasilkan cairan lebih banyak dibandingkan kebutuhan tubuh.

Dua Jenis Hyperhidrosis yang Perlu Diketahui

Dalam dunia medis, hyperhidrosis terbagi menjadi dua jenis utama, yakni hyperhidrosis fokal primer dan hyperhidrosis sekunder.

Hyperhidrosis fokal primer biasanya muncul sejak masa anak-anak atau remaja. Kondisi ini sering kali dipengaruhi faktor genetik dan menyerang bagian tubuh tertentu, seperti telapak tangan, telapak kaki, ketiak, serta wajah.

Pada jenis ini, produksi keringat terjadi tanpa adanya penyakit lain yang menjadi penyebab utama. Banyak penderita mengalami keluhan secara berulang dalam situasi tertentu, seperti saat menghadapi tekanan, berbicara di depan umum, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Sementara itu, hyperhidrosis sekunder terjadi akibat kondisi medis tertentu yang mendasari. Beberapa faktor pemicunya antara lain gangguan hormon seperti hipertiroidisme, diabetes mellitus, gangguan kecemasan, menopause, hingga efek samping obat-obatan tertentu.

Menurut informasi medis dari berbagai sumber kesehatan, hyperhidrosis sekunder biasanya muncul pada usia dewasa dan dapat menyerang area tubuh yang lebih luas dibandingkan jenis primer.

Dampak Hyperhidrosis Tidak Hanya pada Fisik

Keringat berlebih akibat hyperhidrosis bukan hanya menimbulkan masalah fisik, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi psikologis penderitanya.

Telapak tangan yang selalu basah, pakaian yang mudah lembap, atau bau badan akibat produksi keringat berlebihan sering kali membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dalam kondisi tertentu, penderita dapat mengalami penurunan rasa percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain. Aktivitas sederhana seperti berjabat tangan, menggunakan perangkat elektronik, atau menghadiri pertemuan dapat menjadi tantangan tersendiri.

Selain itu, kulit yang terus-menerus lembap juga meningkatkan risiko munculnya gangguan kulit, seperti infeksi jamur maupun bakteri.

Kondisi tersebut dapat semakin berat karena faktor psikologis. Rasa cemas akibat keringat berlebih justru dapat merangsang sistem saraf sehingga produksi keringat meningkat kembali. Siklus ini membuat keluhan hyperhidrosis semakin sulit dikendalikan.

Cara Mengatasi Hyperhidrosis

Penanganan hyperhidrosis dilakukan berdasarkan tingkat keparahan dan lokasi tubuh yang mengalami produksi keringat berlebih.

Sumber: kemkes.go.id

Berita Terkait