Benarkah Memendam Emosi Bisa Memicu Penyakit Autoimun? Ini Penjelasan Medisnya
Koneksi Psikologis dan Fisik: Hubungan Memendam Emosi dengan Risiko Penyakit Autoimun pada Perempuan--Fairuz Ainur
MALANG, DISWAYMALANG.ID – Anggapan bahwa kebiasaan memendam emosi dapat memicu penyakit autoimun semakin sering diperbincangkan. Banyak yang mengaitkan stres berkepanjangan dengan munculnya berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
Lantas, benarkah memendam emosi dapat menjadi penyebab autoimun?
Secara medis, para ahli menjelaskan bahwa hubungan tersebut memang ada, tetapi bukan berarti setiap orang yang memendam emosi pasti akan mengalami penyakit autoimun. Kondisi ini berkaitan dengan dampak stres kronis terhadap sistem kekebalan tubuh.
Stres Kronis Memengaruhi Sistem Imun
Saat seseorang terus-menerus memendam kemarahan, kesedihan, kecemasan, atau tekanan emosional lainnya, otak akan menganggap kondisi tersebut sebagai ancaman yang berlangsung terus-menerus.
BACA JUGA:Apa Itu Penyakit Autoimun? Kenali Gejala Awal, Penyebab, dan Jenisnya Sejak Dini
Respons tersebut memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dalam jumlah tinggi. Dalam jangka pendek, mekanisme ini membantu tubuh menghadapi tekanan. Namun, jika berlangsung lama, kadar hormon stres yang terus meningkat justru dapat mengganggu keseimbangan sistem kekebalan tubuh.
Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan mengalami peradangan kronis yang dapat memengaruhi fungsi sel-sel imun.
Mengapa Bisa Berkaitan dengan Autoimun?
Peradangan kronis akibat stres berkepanjangan diduga menjadi salah satu faktor yang dapat mengacaukan regulasi sistem imun.
Pada kondisi tertentu, gangguan tersebut membuat sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel sehat sebagai ancaman sehingga mulai menyerang jaringan tubuh sendiri. Mekanisme inilah yang menjadi dasar terjadinya penyakit autoimun.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa autoimun bukan disebabkan oleh satu faktor saja. Penyakit ini umumnya dipengaruhi kombinasi faktor genetik, hormonal, lingkungan, infeksi, serta kondisi psikologis yang berlangsung dalam waktu lama.
BACA JUGA:3 Bahan Makanan yang Sebaiknya Tidak Dicuci sebelum Dimasak, Ayam Mentah Nomor Satu
Mengapa Lebih Banyak Terjadi pada Perempuan?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80 persen penderita penyakit autoimun adalah perempuan.
Salah satu penyebabnya diduga berkaitan dengan hormon estrogen yang memiliki hubungan erat dengan sistem kekebalan tubuh. Fluktuasi hormon tersebut membuat respons imun perempuan cenderung lebih aktif dibandingkan laki-laki.
Ketika stres kronis terjadi bersamaan dengan perubahan hormonal, keseimbangan sistem imun dapat lebih mudah terganggu sehingga risiko munculnya penyakit autoimun menjadi lebih tinggi pada sebagian perempuan yang memiliki faktor predisposisi.
Pentingnya Mengelola Emosi
Para ahli menekankan bahwa menjaga kesehatan mental bukan hanya bermanfaat bagi kondisi psikologis, tetapi juga berperan dalam menjaga kesehatan fisik secara keseluruhan.
Mengelola emosi dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti berolahraga secara rutin, tidur yang cukup, melakukan teknik relaksasi, berbagi cerita dengan orang terdekat, maupun berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila tekanan emosional terasa semakin berat.
BACA JUGA:Demensia dan Alzheimer Sering Dianggap Sama, Ternyata Berbeda! Ini Penjelasan Medisnya
Dengan pengelolaan stres yang baik, keseimbangan hormon dan sistem kekebalan tubuh dapat lebih terjaga sehingga risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit autoimun, dapat diminimalkan.
Meski demikian, apabila seseorang mengalami gejala yang mengarah pada penyakit autoimun, seperti kelelahan berkepanjangan, nyeri sendi, ruam kulit, atau demam yang berulang, pemeriksaan ke dokter tetap menjadi langkah terbaik untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Sumber: brin.go.id


