FIA UB Perkuat Literasi Kesehatan Mental melalui Psychological First Aid Training
Foto bersama peserta PFA Training FIA UB bersama Riliv. Komitmen wujudkan kampus aman, inklusif, dan peduli kesehatan mental.--fia.ub.ac.id
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya menyelenggarakan Psychological First Aid (PFA) Training pada Kamis (18/6/2026). Kegiatan di Ruang Rapat Gedung B Lantai 2 FIA UB ini menghadirkan fasilitator dari Riliv dan diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, serta sivitas akademika terpilih. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya FIA UB dalam meningkatkan literasi kesehatan mental sekaligus memperkuat kapasitas sivitas akademika untuk memberikan dukungan awal kepada mahasiswa yang menghadapi tantangan psikologis.
Di tengah meningkatnya kompleksitas kehidupan akademik dan aktivitas kemahasiswaan, pemahaman mengenai kesehatan mental dinilai semakin penting untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
BACA JUGA:Universitas Brawijaya Naik 64 Peringkat Dunia dalam QS World University Rankings 2027
Dikutip dari laman resmi FIA UB, Jumat (19/6/2026), kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan II FIA UB D . Saparila Worokinasih SSos MSi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari penguatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan dalam memahami isu kesehatan mental melalui kolaborasi bersama Riliv.

Peserta PFA Training FIA UB isi survei DAS-21 sebagai langkah awal mental health awareness --fia.ub.ac.id
Menurutnya, berbagai aktivitas akademik maupun non-akademik yang dijalani mahasiswa perlu diimbangi dengan kemampuan pengelolaan emosi dan pendampingan yang tepat. Ia juga menyoroti pentingnya kedekatan emosional antara pengelola program studi dan mahasiswa sebagai salah satu bentuk dukungan yang dapat membantu mahasiswa menghadapi berbagai tekanan selama masa perkuliahan.
“Banyaknya kegiatan mahasiswa independen yang cukup dominan menunjukkan bahwa terdapat berbagai aktivitas yang sebenarnya dapat dikelola dengan lebih baik. Kondisi kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh aspek akademik, dan sebaliknya dinamika akademik juga dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Karena itu, kami berharap sekretaris program studi dapat memiliki kedekatan emosional dengan mahasiswa sebagai wadah pendampingan dan penguatan mental awareness di lingkungan akademik,” ujarnya.
BACA JUGA:Guru Besar UB Ungkap Kunci Teknologi Masa Depan, Pengaturan Band Gap Material 2D Jadi Terobosan Baru
Sebelum memasuki sesi materi utama, peserta mengikuti mental health survey melalui pengisian instrumen DAS-21 (Depression Anxiety Stress Scales) yang terdiri dari 21 pertanyaan. Survei tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan mental peserta selama satu minggu terakhir sekaligus menjadi langkah awal dalam memahami pentingnya kesadaran terhadap kesehatan psikologis.
Suasana pelatihan kemudian dibuat lebih interaktif melalui sesi ice breaking yang mendorong peserta untuk lebih terbuka dan nyaman dalam mengikuti kegiatan. Pendekatan ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran kesehatan mental, mengingat isu psikologis membutuhkan ruang diskusi yang hangat, aman, dan bebas stigma.

Prita Yulia Maharaani, M.Psi., Psikolog dari Riliv paparkan konsep PFA kepada civitas akademika FIA UB--fia.ub.ac.id
Materi utama disampaikan oleh fasilitator Riliv, Prita Yulia Maharaani MPsi Psikolog yang menjelaskan konsep Psychological First Aid sebagai bentuk dukungan psikososial dan psikoedukasi yang dapat diterapkan ketika seseorang mengalami tekanan psikologis. PFA berfokus pada kemampuan untuk hadir, mendengarkan, serta membantu individu menemukan kembali rasa aman dan sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi situasi yang sedang dialami.
“PFA bukan tentang menjadi psikolog, tetapi tentang menjadi manusia yang hadir secara tepat ketika orang lain sedang berada dalam kondisi rentan,” jelas Prita.
Melalui pelatihan ini, peserta dibekali berbagai keterampilan dasar seperti mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental, memahami prinsip pendampingan yang empatik dan non-stigmatis, serta mempraktikkan teknik sederhana untuk mengelola emosi, termasuk latihan pernapasan guna mengurangi respons stres. Bekal tersebut diharapkan dapat memperkuat peran dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola program studi dalam memberikan respons awal yang tepat sebelum mahasiswa memperoleh bantuan profesional yang lebih lanjut.
Sumber: fia.ub.ac.id

