Perang Iran Belum Reda, Menhaj Pastikan Persiapan Haji 2026 Sudah 100 Persen
Menhaj M Irfan Yusuf Saat Pemberangkatan Arus Balik di Halaman Masjid Al Akbar Surabaya Selasa 24 Maret 2026-Istimewa---
SURABAYA, DISWAYMALANG.ID–Di tengah belum redanya perang Iran melawan AS/Israel, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memastikan pelaksanaan haji 2026 bagi jemaah asal Indonesia masih sesuai jadwal. ”Persiapan haji alhamdulilah hampir 100 persen,” kata Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf pada acara pemberangkatan arus balik di Masjid Al Akbar Surabaya, Selasa pagi, 24 Maret 2026.
Seluruh persiapan seperti hotel, katering, dan transportasi bagi jemaah sudah rampung diurus pemerintah. Dukungan pendanaan selama perjalanan kita tak mengalami kendala.
Gus Irfan, sapaan akrabnya, mengatakan, hingga pukul 09.00 ini, tidak ada perubahan mengenai pemberangkatan jemaah haji tanah air. Pemberangkatan jemaah akan di mulai pada 22 April mendatang.
BACA JUGA:Trump 'Negosiasi' dengan Iran, Netanyahu Telepon Minta Kepentingan Israel Diperhatikan
Disinggung isu penerbangan ke Arab Saudi dihentikan dampak perang Iran, Irfan mengatakan juga tak ada kendala berarti. Hingga hari ini, direct flight atau penerbangan langsung masih tetap dibuka oleh pemerintah Saudi. ”Sehingga Insya Allah tak ada gangguan berarti,” paparnya.
Meski mengaku belum menemui sejumlah ganjalan, Irfan menjabarkan langkah mitigasi dan antisipasi tetap disiapkan pemerintah. Termasuk skema tiga langkah pelaksanaan haji yang sempat disampaikan Kemenhaj di rapat dengan DPR RI Komisi VIII. ”Tapi kami berharap, tidak ada perubahan dalam pelaksanannya,” celetuknya.
BACA JUGA:Donald Trump Siap Akhiri Perang Iran, Klaim Telah Berdialog dengan Teheran
Pada Rabu 11 Maret lalu, Irfan sempat menyampaikan tiga skenario pemberangkatan haji di tengah situasi perang Iran. Pertama, lewat skema rute penerbangan. Dengan menghindari rute penerbangan dengan menjauhi zona konflik. Seperti Irak, Suriah, Iran, Israel, dan Qatar.
Kemenhaj mengusulkan pesawat yang mengangkut jemaah melalui rute selatan. Yakni melalui penerbangan di atas Samudra Hindia dan ruang udara di Kawasan Afrika Timur.
Peralihan rute ini, kata Irfan, akan meminimalkan risiko bahaya bagi jemaah. Meski harus ada yang dikorban dalam skenario ini. Waktu penerbangan menjadi jauh lebih lama. Juga potensi technical landing di negara ketiga bagi pesawat jarak pendek. ”Serta penambahan anggaran penerbangan,” terangnya.
BACA JUGA:58.873 Jemaah Umrah RI di Saudi Terdampak Perang Iran, Pemerintah Siapkan Skenario Pemulangan
Sementara skenario kedua adalah yang terburuk. Setidaknya bagi jemaah haji yang sudah bertahun-tahun menunggu keberangkatan ke tanah suci. Arab Saudi tetap membuka pelaksanaan haji, sementara Indonesia membatalkan keberangkatan.
Opsi ini diambil jika risiko keamanan dianggap terlalu besar bagi jemaah Indonesia. Pembatalan atas keinginan pemerintah Indonesia ini tentu juga memilki dampak besar. Salah satunya, pemerintah harus melakukan diplomasi tingkat tinggi. Agar tak tekor akibat pembatalan sepihak. ”Terutama agar biaya akomodasi, konsumsi, dan transportasi yang sudah disetor tidak hangus, melainkan dapat digunakan untuk tahun 2027 tanpa penalti,” kata Irfan.
BACA JUGA:Indonesia Jadi Negara Pertama yang Beli Properti di Mekah-Madinah via Proyek Kampung Haji
Sumber: harian disway









