1 tahun disway

Menjaga Napas Pariwisata Indonesia: Belajar dari ‘Luka’ Bali dan Thailand

Menjaga Napas Pariwisata Indonesia: Belajar dari ‘Luka’ Bali dan Thailand

Wisatawan menikmati suasana khas Desa Penglipuran, Bali. Sepanjang 2025, wisatawan mancanegara ke Bali sekitar 6,95 juta orang, naik hampir 10% dari 2024. Namun, hal itu tak berbanding lurus dengan kinerja industri formal. -foto: water-sport-bali.com--

PARIWISATA selama ini dipersepsikan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang nyaris tanpa batas. Ia menjanjikan devisa, lapangan kerja, dan efek berganda bagi masyarakat. Namun, pengalaman Bali dan Thailand dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa pariwisata juga dapat berubah menjadi sumber krisis ketika dikembangkan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, tata ruang, dan kualitas tata kelola.

Fenomena “Bali sepi” pada periode Tahun Baru 2025/2026 serta penurunan kinerja pariwisata Thailand sepanjang 2025 seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh daerah wisata di Indonesia.

Paradoks Bali: Lonjakan Penumpang, Lesunya Okupansi


Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, akhir tahun pada Rabu (17/12/2025). Sepanjang 2025, jumlah wisatawan mancanegara ke Bali juga mencapai sekitar 6,95 juta, naik 10 persen dari 2024. --antara news

Secara statistik, Bali pada akhir 2025 hingga awal 2026 tidak pernah benar-benar sepi. Data Posko Natal dan Tahun Baru 2025/2026 Bandara I Gusti Ngurah Rai mencatat:

  • Total pergerakan penumpang: 1,48 juta orang (naik 9,04% dari tahun sebelumnya)
  • Rata-rata harian: 67.597 penumpang
  • Puncak kedatangan 24 Desember 2025: 70.746 orang (naik 108,8% YoY)

Sepanjang 2025, jumlah wisatawan mancanegara ke Bali juga mencapai sekitar 6,95 juta orang, meningkat hampir 10% dibandingkan 2024.


Rudy Rinanto Rachmat, penulis. -dok. pribadi--

Namun, lonjakan ini tidak berbanding lurus dengan kinerja industri formal. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang yang biasanya mencapai 90–95% saat malam tahun baru, justru tertahan di kisaran 70–80%. Di beberapa kawasan, terjadi penurunan okupansi hingga 15%.

Paradoks ini mencerminkan dislokasi struktural dalam ekosistem pariwisata Bali.

Salah satu penyebab utama adalah kelebihan pasokan akomodasi. Pada 2025–2026, inventaris kamar di Bali tumbuh hampir 10% per tahun, jauh melampaui pertumbuhan permintaan. Masifnya pembangunan vila dan homestay —terutama di Canggu, Uluwatu, dan Pererenan— memicu fragmentasi pasar dan perang harga.

Kondisi ini diperparah oleh krisis infrastruktur. Rasio kendaraan terhadap kapasitas jalan di Bali Selatan telah mencapai titik jenuh, sementara persoalan sampah dan air bersih semakin memburuk. Akibatnya, indeks kepuasan wisatawan terus tertekan.

Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2025 memangkas belanja perjalanan dinas hingga 50%. Data industri event menunjukkan sekitar 750 kegiatan MICEdibatalkan sepanjang 2025, dengan potensi kerugian ekonomi mencapai Rp 3,15 triliun. Dampaknya, okupansi hotel kehilangan 10–20% pasar stabilnya.

Thailand: Ketika Raksasa Pariwisata Mulai Tersandung


Ilustrasi pesta kembang api spektakuler akhir 2025 di CentralwOrld, Thailand. Negara ini hanya menerima 32,97 juta pengunjung pada 2025, turun 7,23% dibandingkan tahun sebelumnya. --prnewsfoto--

Thailand memberikan pelajaran yang lebih ekstrem. Setelah mencatat hampir 40 juta wisatawan pada 2019, Thailand hanya menerima 32,97 juta pengunjung pada 2025, turun 7,23% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini terutama dipicu oleh runtuhnya pasar Tiongkok:

  • Kedatangan wisatawan Tiongkok 2025: 4,47 juta orang
  • Penurunan YoY:–33,55%

Sumber: