20 Januari: Dunia Peringati Hari Penerimaan Internasional demi Kesetaraan Disabilitas
20 Januari diperingati sebagai International Day of Acceptance--iStock
MALANG, DISWAYMALANG.ID--Setiap tanggal 20 Januari, dunia memperingati International Acceptance Day atau Hari Penerimaan Internasional. Momen ini bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan sebuah gerakan global untuk menghormati hak-hak penyandang disabilitas serta mendorong masyarakat dunia agar melihat keberagaman manusia melalui sudut pandang yang lebih inklusif.
BACA JUGA:HP Flagship dengan NPU Terbaik 2026, Performa AI Andal, Segini Harganya
Hari Penerimaan Internasional pertama kali dicetuskan untuk mengenang Annie Hopkins, pendiri organisasi 3E Love. Annie merupakan sosok inspiratif yang mendedikasikan hidupnya untuk mengubah persepsi publik terhadap disabilitas.
Melalui gerakan ini, dunia diajak untuk berhenti memandang keterbatasan fisik sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari identitas unik yang patut dihargai dan diterima sepenuhnya.
Filosofi di Balik Simbol Hati Kursi Roda

Simbol hari penerimaan internasional--
Ikon yang paling melekat pada peringatan ini adalah International Symbol of Acceptance, sebuah desain kursi roda yang rodanya membentuk simbol hati. Simbol tersebut memiliki makna yang mendalam, yakni cinta dan penerimaan diri yang tulus.
BACA JUGA:Wali Kota Madiun Kena OTT KPK, 9 Orang Langsung Diboyong ke Jakarta!
Kursi roda tersebut tidak lagi dipandang sebagai alat bantu medis yang kaku, tetapi menjadi lambang kekuatan, keberdayaan, dan martabat bagi penggunanya. Penggunaan simbol ini bertujuan untuk menyatukan komunitas disabilitas di bawah pesan positif tentang keberanian dan kecintaan terhadap diri sendiri.
Fokus Utama: Dari Kesadaran Menuju Penerimaan
Inti dari International Acceptance Day terletak pada pergeseran paradigma dari sekadar "kesadaran" (awareness) menuju "penerimaan" (acceptance). Jika kesadaran hanya sebatas mengetahui keberadaan penyandang disabilitas, maka penerimaan menuntut tindakan nyata untuk menghapus diskriminasi.
BACA JUGA:UIN Maliki Malang Nyatakan Kesiapan Jadi Penyelenggara Cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia
Fokus utamanya mencakup:
- Inklusivitas Sistemik: Mendorong terciptanya akses fasilitas publik, pendidikan, dan lapangan kerja yang setara bagi semua orang tanpa terkecuali.
- Penghapusan Stigma: Mengubah narasi kasihan (pity) menjadi narasi pemberdayaan (empowerment).
- Hak untuk Mandiri: Menjamin bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk menentukan pilihan hidup dan berpartisipasi dalam setiap lini kehidupan bermasyarakat.
Sumber: berbagai sumber
