1 tahun disway

Jadikan Kloset Pemantau Hidrasi Harian dengan Sensor Urine Vivo Rp160 Ribuan

Jadikan Kloset Pemantau Hidrasi Harian dengan Sensor Urine Vivo Rp160 Ribuan

Sensor urine vivo. -Ist--

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Vivoo memperkenalkan smart toilet sensor, sebuah perangkat analisis urine berharga murah. Hanya USD 99 atau sekitar Rp 160.000-an. Sensor kecil yang bisa dijepitkan di bagian dalam hampir semua kloset ini mampu memantau hidrasi tubuh dari urine. Otomatia. Tanpa sentuhan.

Sensor ini terhubung ke aplikasi ponsel melalui Bluetooth. Lalu bekerja otomatis saat pengguna menggunakan toilet. Piranti cerdas ini diperkenalkan di ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026.

Vivoo menggunakan sensor optik untuk mengukur specific gravity urine, indikator penting untuk mengetahui tingkat hidrasi tubuh.

BACA JUGA:Mengenal AI Generated Ghost Player, Teknologi Baru Sony untuk Temani Main Game

Data tersebut kemudian diproses oleh unit komputasi internal dengan algoritma milik Vivoo. Kemudian disajikan dalam bentuk informasi sederhana di aplikasi: apakah tubuh terhidrasi dengan baik atau justru kekurangan cairan.

Keunggulan utama sensor ini ada pada pendekatan higienisnya. Vivoo mengklaim perangkatnya menggunakan material antibakteri, teknologi nano antijamur, serta desain no-touch sepenuhnya.

Sensor ini dirancang mampu digunakan lebih dari 1.000 kali, menjadikannya solusi jangka panjang bagi pengguna rumahan yang ingin memantau kondisi tubuh tanpa prosedur medis invasif.

BACA JUGA:Smartphone Lipat: Inovasi atau Sekadar Tren? Menelisik 9 Kelebihan dan Kekurangannya

Peluncuran Vivoo menambah panjang daftar perangkat analisis urine yang mulai masuk pasar konsumen. Sebelumnya, Withings meluncurkan U-Scan, alat analisis urine premium dengan harga sekitar USD 380 atau sekitar Rp 6.372.600.

Perangkat ini tersedia dalam dua varian. Versi Nutrio memantau keton, hidrasi, dan tingkat keasaman urinw yang berkaitan dengan diabetes. Sementara varian Calci berfokus pada kadar kalsium sebagai indikator awal risiko batu ginjal.

Berbeda dengan Vivoo, Withings U-Scan menggunakan sistem kartrid yang harus diganti secara berkala. Pengguna juga perlu mengeluarkan perangkat dari kloset untuk pembersihan dan pengisian daya. Meski disertai sarung tangan karet dalam paket kartrid, proses ini dinilai kurang praktis bagi sebagian pengguna.

BACA JUGA:Nokia G26 Resmi Hadir di Indonesia Awal 2026, Andalkan Android 14 Go dan Baterai Jumbo di Kelas Entry-Level

Di sisi lain, pendekatan paling kontroversial datang dari Kohler Dekoda. Perangkat ini memanfaatkan kamera di dalam kloset untuk memotret hasil buangan pengguna, lalu menganalisisnya menggunakan kecerdasan buatan.

Namun, kekhawatiran privasi muncul setelah terungkap bahwa sistem enkripsi kamera tersebut tidak sepenuhnya aman. Selain itu, harganya yang mencapai USD 599 atau sekitar Rp 10 jutaan. Harga tersebut terbilang mahal. Sehingga dijangkau pasar luas.

Fenomena toilet pintar sebenarnya bukan hal baru, namun penerimaannya kini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Jika dahulu konsep memantau isi kloset dianggap menjijikkan dan sempat menjadi bahan parodi, kini masyarakat semakin terbiasa memantau data biologis, mulai detak jantung, darah, hingga air liur.

BACA JUGA:Elon Musk Ancam Konsekuensi bagi Pengguna Ilegal Deepfake Bikini Grok AI

Masuknya sensor urine seperti Vivoo menandai perubahan cara pandang terhadap kesehatan preventif. Toilet, yang selama ini hanya dianggap fasilitas sanitasi, perlahan bertransformasi menjadi alat pemantau kesehatan harian.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terasa aneh. Namun bagi pasar teknologi kesehatan, kloset tampaknya menjadi penghasil data kesehatan berikutnya.

Sumber: