1 tahun disway

Peringatan Hari Pekerja Perempuan Lajang di Amerika Serikat

Peringatan Hari Pekerja Perempuan Lajang di Amerika Serikat

Ilustrasi perempuan--

MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Setiap tanggal 4 Agustus, Amerika Serikat punya cara khusus untuk memberikan apresiasi kepada kaum perempuan yang memilih menjalani hidup mandiri.

Peringatan ini dikenal sebagai Hari Pekerja Perempuan Lajang (Single Working Women’s Day), sebuah momentum yang bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan nyata atas peran penting perempuan lajang dalam dunia kerja dan masyarakat.

Sejarah panjang keterlibatan perempuan dalam dunia kerja di negeri Paman Sam sudah dimulai sejak awal abad ke-20.

Namun, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Kala itu, perempuan terutama yang masih lajang kerap dipandang sebelah mata. Mereka bekerja keras, tetapi dihargai dengan gaji yang jauh lebih rendah dibandingkan pria.

Berdasarkan catatan Biro Sensus, hanya sekitar 25 persen perempuan yang saat itu benar-benar memiliki pekerjaan yang dianggap “menguntungkan”.

Kondisi inilah yang memantik lahirnya berbagai protes dan gelombang perjuangan. Banyak perempuan muda lajang turun ke jalan, menuntut hak yang sama, termasuk dalam dunia kerja dan ranah sosial.

Dari titik inilah perlahan terbuka jalan menuju kesetaraan, hingga stigma negatif terhadap perempuan pekerja sedikit demi sedikit mulai pudar.

Lompatan besar terjadi pada tahun 2006, ketika seorang perempuan bernama Barbara Payne menyadari adanya ketimpangan sederhana namun bermakna.

Di kalender perayaan, sudah ada hari untuk ayah, ibu, bahkan teman, tetapi tidak ada satu pun hari khusus untuk menghormati perempuan lajang yang bekerja. Dari situlah lahir gagasan mendirikan Single Working Women’s Day.

Bersama komunitas yang kemudian disebut Jaringan Afiliasi Perempuan Pekerja Lajang, Payne menetapkan tanggal 4 Agustus sebagai hari untuk merayakan keteguhan perempuan mandiri.

Lebih dari sekadar perayaan, Hari Pekerja Perempuan Lajang hadir untuk menantang stigma sosial yang kerap melekat pada status “lajang”.

Seringkali, perempuan yang memilih untuk tidak menikah atau belum menemukan pasangan dianggap tidak dapat menjalani kehidupan yang penuh makna. Pandangan inilah yang dikenal dengan istilah singlisme.

Melalui peringatan ini, pesan kuat disampaikan perempuan lajang bisa berdiri sama tinggi, bahkan berkontribusi besar bagi keluarga, komunitas, dan masyarakat.

BACA JUGA:Waspada Hujan dan Potensi Longsor, BMKG Soroti Junrejo Kota Batu dan Pujon Malang per 4 Agustus

Sumber: time and date