Lebih dari Sekadar Bosan: Gen Z Pindah Kerja demi Keseimbangan Hidup dan Arah Karier Lebih Jelas
Ilustrasi gen z ketika bekerja--iStockphoto
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Gen Z, anak muda kelahiran akhir 1990-an hingga awal 2010-an erap distigmakan mudah bosan dan cepat berpindah kerja. Padahal, data terbaru menunjukkan realitas yang jauh lebih kompleks dan rasional daripada sekadar “mudah menyerah”.
Menurut laporan Deloitte Global 2025, sebanyak 21 persen Gen Z kini bekerja di bidang yang berbeda dari rencana awal karier mereka.
Pergeseran ini tidak semata didorong oleh rasa bosan. Tetapi karena kebutuhan beradaptasi terhadap pasar kerja yang dinamis serta pencarian makna hidup yang lebih otentik.
Hasil survei Deloitte memperlihatkan bahwa alasan utama Gen Z berpindah bidang kerja adalah faktor struktural dan kualitas hidup. Bukan sekadar kejenuhan.
Berikut rincian tujuh faktor terbesar yang memengaruhi keputusan mereka:
- Ketersediaan pekerjaan dan kondisi pasar (32 persen): Ini menjadi alasan tertinggi. Dengan pasar kerja yang fluktuatif, Gen Z cenderung lebih realistis dalam menentukan karier. Mereka memilih jalur yang memberi peluang kerja lebih stabil dan relevan dengan perkembangan teknologi.
- Keseimbangan antara kerja dan kehidupan (28 persen): Gen Z menolak konsep “hidup untuk bekerja”. Mereka menginginkan keseimbangan emosional dan waktu pribadi, terutama karena meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental.
- Kompensasi yang lebih baik (26 persen): Faktor finansial tetap penting, tetapi bukan satu-satunya pendorong. Bagi Gen Z, gaji ideal adalah yang seimbang dengan beban kerja dan kesempatan berkembang.
- Jam kerja yang lebih fleksibel (25 persen): Gen Z sangat menghargai fleksibilitas. Bekerja dari rumah atau sistem hybrid dianggap mendukung produktivitas tanpa mengorbankan kehidupan sosial.
- Perkembangan karier yang lebih baik (23 persen): Banyak Gen Z merasa jalur karier mereka stagnan, sehingga berpindah ke bidang lain yang menawarkan prospek pertumbuhan dan pelatihan lebih jelas.
- Perubahan minat (23 persen): Sebagai generasi yang tumbuh dengan akses informasi luas, minat dan passion Gen Z sering berkembang. Mereka lebih berani mengejar karier baru yang sesuai dengan nilai dan ketertarikan pribadi.
- Menemukan tujuan hidup yang lebih besar (14 persen): Meskipun jumlahnya kecil, ini mencerminkan sisi idealis Gen Z. Sebagian dari mereka meninggalkan karier mapan demi mengejar makna hidup yang lebih berdampak sosial.
Pergeseran Nilai dari “Stabilitas” ke “Relevansi dan Makna”
Jika generasi sebelumnya menganggap stabilitas kerja sebagai tujuan utama, maka bagi Gen Z, relevansi dan kebermaknaan lebih bernilai.
Mereka tidak takut berpindah jalur selama langkah tersebut membawa mereka lebih dekat pada hidup yang seimbang, penuh makna, dan selaras dengan nilai pribadi.
Fenomena ini juga berkaitan erat dengan perubahan pola kerja global. Era digital menciptakan lapangan kerja baru yang lebih fleksibel seperti remote jobs, freelance, dan industri kreatif yang cocok dengan karakter eksploratif Gen Z.
Sementara bagi perusahaan, tren ini menjadi tantangan besar. Untuk mempertahankan talenta muda, mereka perlu membangun lingkungan kerja yang inklusif, terbuka terhadap inovasi, dan mendukung pengembangan diri karyawan.
Konteks Indonesia: Bonus Demografi dan Tantangan Baru
Di Indonesia sendiri, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, terdapat 34,8 juta orang berusia 15 hingga 29 tahun yang sudah bekerja.
Angka ini memperlihatkan betapa dominannya Gen Z dalam pasar tenaga kerja nasional.
Namun, dominasi ini juga berarti bahwa perubahan nilai kerja di kalangan Gen Z akan berdampak langsung pada arah ekonomi Indonesia.
Apabila generasi ini mengutamakan keseimbangan dan fleksibilitas, maka perusahaan yang gagal menyesuaikan diri bisa kehilangan banyak talenta potensial.
Data Deloitte membuktikan satu hal penting yakni Gen Z bukan generasi yang tidak setia, melainkan generasi yang selektif.
Sumber: data deloitte
