25 September Hari Farmasi Sedunia: Peran Apoteker sebagai Garda Depan Kesehatan Global
Ilustrasi Apoteker mencarikan obat untuk pasien--iStockphoto
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Setiap tanggal 25 September, dunia memperingati Hari Farmasi Sedunia atau World Pharmacist Day.
Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum global untuk menegaskan kembali kontribusi apoteker dalam menjaga mutu layanan kesehatan.
Hari besar ini pertama kali diresmikan oleh Federasi Farmasi Internasional (FIP) pada tahun 2009 dalam sidang dewan di Istanbul, Turki.
Pemilihan tanggal 25 September bertepatan dengan hari berdirinya FIP, organisasi internasional yang menaungi lebih dari 4 juta apoteker, ilmuwan farmasi, dan akademisi di seluruh dunia.
Sejak saat itu, peringatan ini rutin diadakan dengan tema berbeda setiap tahunnya, menyesuaikan dengan tantangan global dalam dunia kesehatan.
Tema 2025: "Pikirkan Kesehatan, Pikirkan Apoteker"
Tahun 2025 mengusung tema “Think Health, Think Pharmacist” atau “Pikirkan Kesehatan, Pikirkan Apoteker.”
Tema ini lahir dari kegelisahan terhadap krisis tenaga kesehatan yang berkualitas di berbagai negara.
Tekanan ekonomi, pemotongan anggaran, hingga kebijakan perekrutan staf tidak berkualifikasi untuk menggantikan apoteker menjadi ancaman serius bagi keamanan pasien.
Apoteker bukan hanya tenaga teknis yang menyerahkan obat di balik meja. Mereka adalah penjaga gerbang keamanan pengobatan yakni memastikan pasien mendapat obat sesuai kebutuhan medis, memantau dosis, mengawasi penyimpanan, hingga memastikan distribusi obat dilakukan secara aman.
Selain itu, di era modern, apoteker juga terlibat aktif dalam vaksinasi, edukasi masyarakat, hingga mendukung pelayanan kesehatan berbasis komunitas.
Sejarah dan Peran Apoteker dalam Lintasan Waktu
Jejak profesi farmasi dapat ditelusuri jauh ke masa lampau. Sejak manusia mengenal ramuan daun untuk mengobati luka, hingga mitologi Yunani yang menggambarkan Dewa Asclepius sebagai sosok apoteker pertama, farmasi selalu menjadi bagian penting dari peradaban.
Batas yang jelas antara kedokteran dan farmasi baru terbentuk pada abad ke-8. Perkembangannya semakin pesat setelah Perang Dunia II, ketika penemuan berbagai obat modern memperluas peran apoteker dalam menjaga kesehatan masyarakat. Kini, farmasi menjadi salah satu fondasi penting sistem kesehatan global.
Perayaan ini adalah bentuk penghormatan sekaligus pengingat. Tanpa apoteker terlatih, kualitas layanan kesehatan akan menurun drastis antara laib dari keamanan obat yang tidak terjamin hingga risiko salah penanganan pasien.
Dengan kata lain, berinvestasi pada apoteker berarti berinvestasi pada kesehatan masa depan.
Sumber: pharma exchipients
