30 Maret Ulang Tahun Vincent van Gogh ; Memahami Sang Seniman Melalui Surat - Suratnya

-Letter by Van Gogh Book-
4. Ketimpangan antara Harapan dan Realita
Van Gogh memiliki impian besar untuk diakui dalam dunia seni, tetapi kenyataannya ia hidup dalam kemiskinan. Dalam suratnya pada 20 Oktober 1882, ia menulis, "What would be of life if we didn’t have the courage to attempt anything?" (Apa jadinya hidup jika kita tidak punya keberanian untuk mencoba apa pun?). Meskipun terus berusaha, ia kerap merasa gagal dan tidak dihargai.
Hal ini mencerminkan realita yang dihadapi banyak pekerja kreatif saat ini. Ketika dunia modern memberikan lebih banyak peluang untuk mengekspresikan diri, tekanan untuk sukses secara finansial tetap menjadi tantangan.
5. Perjuangannya Melawan Penyakit Mental
Van Gogh diketahui mengalami gangguan mental, yang sering kali ia tuliskan dalam suratnya. Dalam suratnya kepada Theo pada 18 Juni 1888, ia menulis, "I am seeking, I am striving, I am in it with all my heart." (Aku mencari, aku berusaha, aku melakukannya dengan sepenuh hati). Meskipun mengalami depresi dan kecemasan, ia tetap berusaha untuk menemukan makna dalam hidupnya.
Hari ini, semakin banyak orang yang berbicara terbuka tentang kesehatan mental, tetapi stigma masih ada. Kisah Van Gogh bisa menjadi pengingat bahwa perjuangan dengan kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, tetapi bagian dari perjalanan hidup.
6. Hubungan dengan Alam dan Spiritualitas
Dalam banyak suratnya, Van Gogh menulis tentang bagaimana ia menemukan ketenangan dalam alam. Dalam suratnya pada 30 April 1885, ia menulis, "If you truly love nature, you will find beauty everywhere." (Jika kamu benar-benar mencintai alam, kamu akan menemukan keindahan di mana-mana). Lukisan-lukisannya sering kali menampilkan ladang gandum, pohon zaitun, dan langit berbintang, yang mencerminkan hubungan spiritualnya dengan dunia.
Banyak orang modern yang kembali mencari ketenangan dalam alam, baik melalui perjalanan ke pedesaan atau meditasi. Van Gogh adalah salah satu contoh bagaimana hubungan dengan alam bisa menjadi sumber inspirasi dan ketenangan.
7. Bagaimana Masyarakat Memandangnya
Saat masih hidup, Van Gogh sering dianggap sebagai orang aneh dan tidak stabil. Dalam suratnya pada 24 Juni 1880, ia menulis, "Normality is a paved road: It’s comfortable to walk, but no flowers grow on it." (Normalitas adalah jalan beraspal: nyaman untuk dilalui, tetapi tidak ada bunga yang tumbuh di atasnya). Ini menunjukkan bahwa ia sadar akan perbedaan dirinya dengan orang lain, tetapi tetap memilih untuk berjalan di jalannya sendiri.
Kata-katanya masih relevan hari ini, terutama bagi mereka yang merasa berbeda atau tidak sesuai dengan standar masyarakat. Van Gogh mengajarkan bahwa keunikan bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan.
8. Bagaimana Dunia Menghargainya Setelah Meninggal
Tragisnya, Van Gogh hanya menjual satu lukisan semasa hidupnya. Setelah kematiannya, karyanya baru diakui sebagai mahakarya. Dalam suratnya pada 25 Mei 1889, ia menulis, "I feel that there is nothing more truly artistic than to love people." (Aku merasa tidak ada yang lebih artistik daripada mencintai manusia). Kata-katanya ini kini hidup dalam karya-karyanya yang dikagumi oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya menghargai seniman saat mereka masih hidup, bukan hanya setelah mereka tiada.
Sumber: van gogh letters