Guru Besar Kehutanan UB yang Juga Dijuluki Pendekar Mangrove dari Lampung

Prof. Dr. Asihing Kustanti--
KLOJEN, DISWAYMALANG.ID--Dikukuhkan sebagai guru besar Univesitas Brawijaya (UB) di bidang ilmu pengelolaan hutan seolah "peresmian akbar" bagi Prof. Dr. Asihing Kustanti, S.Hut, M.Si. Jabatan akademis tertinggi itu juga bisa dibilang merupakan puncak pengakuan atas kiprah Ketua Program Magister Sosiologi Kehutanan UB dalam hal pengelolaan hutan, selama ini.
Pengukuhan Prof. Asihing sebagai guru besar ke-411 yang dihasilkan UB sejauh ini, dilakukan pada Senin, 25 Februari 2025 lalu. Saat itu, total ada tujuh guru besar UB baru yang dikukuhkan.
Dalam pengkuhan itu, Prof. Asihing menyampaikan orasi berjudul "Brawijaya Smart People And Sustainable Forest (BrawijayaSPSF): Model Kelembagaan Pengelolaan Hutan Secara Berkelanjutan Sesuai Karakteristik”. Dia menyodorkan konsep SPSF sebagai jawaban bagaimana seharusnya aktor berperilaku dan bertindak dalam mencapai keberlanjutan pengelolaan hutan sesuai dengan karakteristiknya
“Model BrawijayaSPSF merupakan model yang membahas secara holistik terkait kinerja pengelola kawasan hutan yang dipengaruhi oleh aturan main, sosial, ekonomi, dan karakteristik hutan.”, jelasnya lebih lanjut, dalam orasi ilmiahnya.
Prof. Dr. Asihing Kustanti saat dikukuhkan sebagai guru besar UB, Senin (25/2)--ub.ac.id
Cinta Hutan Sejak Muda
Pengelolaan hutan memang hal yang menarik minat profesor kelahiran Surabaya ini. Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan hutan, khususnya hutan bakau atau mangrove.
Saat masih kecil dan berjalan-jalan di pantai Surabaya, Asihing tertarik dengan mangrove yang dia nilai sebagai obyek yang eksotik, sekaligus simbol kekokohan. Dia kagum bagaiman pepohonan dengan perakaran yang mencuat itu mampu menahan gempuran ombak.
Beranjak dari situ, Asihing remaja tertarik dengan bakau. Itu antara lain yang mendorongnya kuliah di Manajemen Hutan Institut Pertanian Bogor (IPB) usai lulus dari SMA 5 Surabaya.
Dengan kuliah, Asihing mendapat kesempatan memperdalam minattnya akan hutan dengan basis pengetahuan. Mempelajari hutan berbasis ilmu, mendorongnya makin jatuh cinta dengan hutan. Antara lain membawa dia melanjutkan kuliah hingga jenjang doktor di bidang kehutanan.
Bukan hanya belajar, Asihing sekaligus menjadi pengajar. Usai lulus Sarjana Kehutanan dari IPB, dia diterima sebagai dosen di Universitas Lampung (Unika), mulai tahun 1995.
Saat jadi dosen inilah, Asihing makin nyata dalam berkiprah di pengelolaan hutan. Khususnya mangrove. Dia berperan membawa Unila berhak atas pengelolaan 700 hektare hutan mangrove milik Pemkab. Lahan luas mangrove itu kemudian dijadikan Lampung Mangrove Center (LMC)
Kiprah Internasional
Dengan LMC, kiprah Asihing makin meluas. Yang utama dia terus terlibat dan berperan dalam nenjaga keberlanjutan 700 hektare hutan bakau itu untuk kepentingan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan.
Dikutip dari tulisan di Lampung Post, Asihing terlibat dalam membawa LMC masuk jejaring kerja mangrove nasional dan internasional. Antara lain membangun kerjasama dengan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove II Wilayah II Kementrian Kehutanan.
Jaringan internasional juga dibangun, diawali kerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Lalu berlanjut dengan Forestry Faculty, University of Gottingen, Jerman.
Sumber: