Muhadjir Effendy: Muhammadiyah Kembangkan Bisnis Berbasis Kapitalis Relijius agar Selaras Nilai-Nilai Agama

Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P. menerapkan strategi ekonomi syariah dalam Mentari Mart saat Rakornas Muhammadiyah di Dome UMM, Rabu (26/2)--Humas UMM
TLOGOMAS, DISWAYMALANG.ID-- Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam berbisnis. Yakni, bisnis tidak hanya untuk keuntungan, tetapi juga sebagai sumber keberkahan.
Hal ini dia sampaikan dalam Rakornas Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah yang digelar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tlogomas, Kota Malang, Kamis, (26/2).
Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah menurut mantan Rektor UMM ini terus mendorong perubahan di berbagai sektor, termasuk ekonomi. Namun, banyak warganya masih skeptis terhadap dunia usaha, menganggapnya tidak bersih akibat praktik kecurangan dan manipulasi dalam perdagangan.
Untuk itu, lanjut dia, Muhammadiyah berkomitmen mengubah pandangan negatif terhadap bisnis dengan mendorong peluang usaha yang berlandaskan etika, kejujuran, dan nilai-nilai agama. Muhadjir menegaskan bahwa konsep kapitalisme religius menjadi dasar dalam pembangunan ekonomi tersebut.
Menurut mantan Rektor UMM ini, Muhammadiyah menyakini bahwa bisnis dapat selaras dengan nilai-nilai agama. Dengan menerapkan kapitalisme berbasis etika religius, usaha tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa manfaat bagi banyak pihak.
Untuk itu, sambung dia, Muhammadiyah berupaya mencetak kapitalis yang religius serta memiliki tanggung jawab sosial dan moral dalam berbisnis. Pendekatan ini menekankan bahwa setiap usaha harus berlandaskan etika yang kuat.
"Kapitalisme yang lahir dengan prinsip agama yang kuat tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa berkah bagi umat," ujarnya.
Muhammadiyah juga menekankan pentingnya pembinaan birokrasi yang lebih fleksibel dan inklusif agar dapat beradaptasi dengan perubahan zaman. Dengan sistem yang tidak kaku, organisasi ini berupaya mendukung keberlangsungan bisnis dan usaha yang dijalankan.
Lebih lanjut lagi, Muhammadiyah mengembangkan inovasi dalam kepemilikan bisnis dengan membuka peluang bagi warga dan mitra untuk turut serta, tidak terbatas pada pengurus organisasi. Pendekatan ini memungkinkan partisipasi ekonomi secara individu maupun kolektif.
Langkah ini bertujuan agar bisnis Muhammadiyah berkembang secara inklusif dan berkelanjutan. Sektor ritel pun menjadi fokus utama sebagai saluran distribusi produk berkualitas dengan harga terjangkau.
Dengan adanya outlet ritel, produk dari UMKM warga Muhammadiyah dapat lebih mudah diakses, memberikan peluang pasar yang lebih luas bagi produk lokal.
Tentunya, produk yang dijual harus memenuhi standar kelayakan, baik dari segi kualitas maupun kemasan.
Jika ada produk yang belum memenuhi standar, outlet memiliki kewajiban untuk membina produk tersebut agar dapat lebih diterima di pasar.
"Kemudian kita mengontrol sendiri sirkulasi barang yang ada di Mentari Mart, tanpa ada campur tangan dari pihak manapun dan diatur oleh manajemen Muhammadiyah," jelasnya.
Sumber: