Selama Liburan Volume Sampah Melonjak 40%, Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu
Sampah berserakan di Alun Alun Kota Wosata Bataai-ist-DLH Kota Batu
BATU, DISWAYMALANG.ID–Sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Jawa Timur, Kota Batu selalu sukses menyedot perhatian ratusan ribu wisatawan setiap kali musim liburan sekolah tiba. Udara yang sejuk, panorama alam yang indah, serta menjamurnya tempat rekreasi modern menjadi daya tarik yang sulit ditolak. Namun, di balik gemerlap dan ramainya kunjungan wisata tersebut, ada satu tantangan besar yang harus dihadapi oleh pemerintah setempat: ledakan volume sampah.
BACA JUGA:Bumiaji mBubur Suro, Uri-uri Budaya Tanpa Sampah Plastik
Banyaknya manusia yang datang otomatis berbanding lurus dengan jumlah sampah yang dihasilkan. Mulai sampah plastik bekas makanan, botol minuman, hingga sampah organik sisa kuliner, semuanya menumpuk di berbagai sudut kota. Menghadapi situasi ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu harus memutar otak dan bekerja ekstra keras demi menjaga agar kota wisata ini tetap sedap dipandang mata.
BACA JUGA:Monitoring Libur Panjang Sekolah di Kota Batu: Fokus Keamanan dan Sampah
Kenaikan Signifikan di Akhir Pekan
Koordinator Kebersihan sekaligus Koordinator Penyapu Jalan DLH Kota Batu, Rudi Eko Prasetyo, mengungkapkan bahwa perbedaan jumlah sampah antara hari biasa dengan masa liburan sangatlah mencolok. Menurut pantauan di lapangan, kenaikan volume sampah selama musim liburan ini terjadi secara global dan merata di seluruh jalur protokol maupun non-protokol.
BACA JUGA:Monitoring Libur Panjang Sekolah di Kota Batu: Fokus Keamanan dan Sampah
"Kalau kita melihat dari status umum atau hari biasa, jumlahnya cenderung stabil. Tapi begitu memasuki liburan panjang sekolah, weekend, dan libur nasional, peningkatan sampah memang sangat signifikan," kata Rudi saat memberikan keterangan di kantornya, Senin (6/7/2026).
BACA JUGA:TPA Tlekung Kota Batu Bakal Jadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Khusus Sampah Residu
Rudi merinci bahwa persentase kenaikan sampah pada hari-hari biasa selama musim libur berada di angka sekitar 35 persen. Namun, angka tersebut langsung melonjak tajam ketika menyentuh akhir pekan.
"Lho, kok bisa begitu? Ya, karena di hari Sabtu dan Minggu itu puncak kunjungan wisatawan. Kenaikannya bisa mencapai 40 persen dari hari biasa. Ini sebuah peningkatan yang sangat luar biasa dan menuntut kesiapan penuh dari kami di lapangan," tambahnya.
BACA JUGA:FEB UB Tingkatkan Kepedulian Lingkungan melalui Pemilahan Sampah Botol Bekas
Siasat Bersih-Bersih: Tambah Pasukan dan Siagakan Mobil Darurat
Bagi DLH Kota Batu, tumpukan sampah adalah risiko sekaligus dampak yang harus diterima sebagai konsekuensi logis dari sebuah kota wisata. Alih-alih mengeluh, pihak kebersihan memilih untuk bersiap siaga dan selalu standby dalam menangani masalah ini. Tujuannya satu: agar wisatawan tetap merasa nyaman, dan Kota Batu bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain sebagai daerah yang bersih, indah, serta tidak kumuh.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, DLH menerapkan strategi penambahan personel di titik-titik sentral keramaian, seperti kawasan Alun-Alun Kota Batu dan sepanjang jalan protokol. Pasukan penyapu jalan dan petugas evakuasi sampah yang biasanya hanya berjumlah sedikit, kini ditambah hingga tiga kali lipat. Jam kerja mereka pun diperpanjang, mulai dari pagi hari, jam 12 siang, jam 1 siang, hingga berlanjut sampai jam 9 malam.
Tidak hanya urusan tenaga manusia, armada pengangkut sampah berupa truk, tosa (motor roda tiga), dan mobil panther operasional juga ikut ditambah jam terbangnya.
"Kami membagi jadwal armada pengangkut dari pagi hari jam 6, lalu lanjut lagi jam 8, dan seterusnya. Selain itu, kami juga menyiapkan satu atau dua mobil darurat khusus. Mobil ini disiagakan untuk mengantisipasi adanya kondisi darurat, seperti sampah yang tertumpah atau adanya oknum yang membuang sampah sembarangan secara liar. Begitu ada laporan, tim darurat langsung gerak cepat meluncur ke lokasi," pungkas Rudi.
Langkah taktis ini sangat krusial, sebab komoditas utama yang dijual oleh Kota Batu adalah keindahan alam, keseimbangan lingkungan, serta kesejukan udaranya. Jika citra bersih tersebut tercoreng oleh tumpukan sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap, hal itu dikhawatirkan akan menurunkan minat wisatawan untuk kembali berkunjung ke kota ini di masa mendatang.
Sumber:


