1 tahun disway

112 Tahun Kota Malang: Menuju Kota Berdaya Saing Global

112 Tahun Kota Malang: Menuju Kota Berdaya Saing Global

Alun-Alun Tugu Malang di depan Kantor Balai Kota Malang, -dok. humas pemkot--

Sebab, tidak semua persoalan dapat terbaca utuh dari meja birokrasi. Ada banyak hal yang hanya akan tampak ketika pemimpin hadir langsung. Memastikan apakah bantuan benar-benar tepat sasaran. Apakah infrastruktur yang dibangun benar-benar bermanfaat. Apakah layanan publik benar-benar memudahkan. Juga, apakah warga sungguh merasakan dampak pembangunan. Kepemimpinan yang kuat pada akhirnya bukan hanya soal kemampuan merancang program, tetapi juga kesediaan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar bekerja di lapangan.

Modal Sosial dan Kultural yang Sangat Besar

Dalam perspektif pembangunan kota, Malang sebenarnya memiliki modal sosial dan kultural yang sangat besar. Sedikit kota di Indonesia yang memiliki kombinasi sekuat Malang: populasi muda yang besar, konsentrasi perguruan tinggi yang tinggi, komunitas kreatif yang hidup, sektor jasa yang aktif, serta citra kota yang relatif kuat di tingkat nasional. Modal ini adalah “energi strategis” yang bila dikelola serius bisa menjadikan Malang bukan hanya kota yang nyaman dihuni. Tetapi juga kota yang unggul dalam kompetisi talenta, inovasi, dan ekonomi masa depan.

Sedangkan dalam konteks persaingan antarkota yang semakin ketat, Kota Malang juga perlu mulai menegaskan orientasinya sebagai kota yang berdaya saing tinggi. Bukan hanya di tingkat regional dan nasional, tetapi juga secara global. Daya saing kota hari ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh luas wilayah atau besarnya anggaran, namun oleh kemampuan kota dalam mengelola talenta, mendorong inovasi, membangun kualitas layanan publik, serta menciptakan ekosistem ekonomi yang adaptif terhadap perubahan zaman. Pada era mobilitas manusia, teknologi, dan investasi yang semakin terbuka, kota-kota yang unggul adalah kota yang mampu menghadirkan kenyamanan hidup sekaligus peluang masa depan.

Kota Malang sesungguhnya memiliki fondasi yang sangat kuat untuk bergerak ke arah itu. Sebagai kota pendidikan, kota jasa, dan kota kreatif, Malang memiliki kekayaan yang tidak dimiliki banyak daerah lain: konsentrasi perguruan tinggi, populasi muda yang besar, komunitas kreatif yang hidup, serta identitas kota yang cukup kuat di tingkat nasional. Yang dibutuhkan ke depan adalah keberanian untuk mengonversi seluruh modal tersebut menjadi keunggulan kompetitif kota. Artinya, Malang tidak cukup hanya menjadi kota yang nyaman dan disukai. Tetapi harus tumbuh menjadi kota yang produktif, inovatif, ramah investasi, unggul dalam kualitas SDM, dan mampu menjadi magnet bagi lahirnya gagasan, usaha, serta kepemimpinan masa depan.


Gedung Malang Creative Center (MCC), pusat ekosistem ekonomi kreatif di Kota Malang. -dok. humas pemkot malang--

Menuju kota berdaya saing global tentu bukan berarti Kota Malang harus kehilangan jati dirinya. Justru sebaliknya, daya saing global yang sehat harus dibangun di atas karakter lokal yang kuat. Malang perlu tetap menjaga identitasnya sebagai kota yang berbudaya, berpendidikan, dan humanis, sambil secara bersamaan mempercepat transformasi menuju kota yang lebih cerdas, lebih efisien, lebih terhubung, dan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi masa depan. Dengan kata lain, yang harus dibangun bukan sekadar citra kota modern, tetapi substansi kota unggul yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Pembentuk Daya Saing Kota di Negara Maju

Literatur dan praktik pembangunan perkotaan di berbagai negara maju menunjukkan bahwa daya saing kota dibentuk oleh kombinasi antara kapasitas institusional, inovasi, kualitas sumber daya manusia, efisiensi layanan publik, dan kelayakhunian kota. Kota-kota seperti Singapura, Seoul, Zurich, Amsterdam, dan Copenhagen konsisten berada di jajaran atas berbagai indeks internasional karena mampu mengintegrasikan pembangunan ekonomi, kualitas tata kelola, dan kualitas hidup warga secara seimbang. Dengan demikian, arah pembangunan Kota Malang ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada pembangunan daya saing kota yang sistemik, berkelanjutan, dan terukur.

Dalam konteks itulah, Kota Malang sesungguhnya memiliki peluang besar untuk menapaki arah yang sama, tentu dengan skala dan karakter yang sesuai dengan jati dirinya. Malang tidak perlu meniru kota-kota dunia secara mentah. Tetapi perlu belajar pada prinsip-prinsip yang membuat mereka unggul: pemerintahan yang efektif, keberanian berinovasi, kualitas SDM yang tinggi, pengelolaan kota yang disiplin, dan kemampuan mengubah potensi lokal menjadi kekuatan global. Dengan basis sebagai kota pendidikan, kota kreatif, dan kota jasa, Malang memiliki fondasi yang cukup kuat untuk tumbuh menjadi salah satu kota paling kompetitif di Indonesia—dan dalam jangka panjang, menjadi kota yang memiliki relevansi global.

Ke depan, salah satu kebutuhan penting dalam pembangunan Kota Malang adalah memperkuat model kolaborasi antarpemangku kepentingan secara lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Kota dengan potensi besar seperti Malang akan jauh lebih cepat melompat apabila energi yang dimiliki pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, komunitas, dan civil society dapat dipertemukan dalam satu ekosistem pembangunan yang saling menguatkan.

Pemerintah memiliki otoritas kebijakan, kampus memiliki kapasitas pengetahuan dan riset, dunia usaha menghadirkan daya gerak ekonomi. Media berperan membangun kesadaran publik dan kontrol sosial. Sementara masyarakat sipil menjaga partisipasi serta sensitivitas sosial pembangunan. Bila seluruh kekuatan ini dapat diorkestrasi secara nyata, Kota Malang akan memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh untuk tumbuh sebagai kota yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing global.

Tantangan berikutnya adalah persoalan klasik perkotaan yang hingga kini masih menjadi keluhan warga: kemacetan, parkir, kualitas infrastruktur lingkungan, pengelolaan sampah, drainase, dan tata ruang yang semakin tertekan oleh pertumbuhan aktivitas kota. Bahkan dalam proses pembahasan RPJMD 2025–2029, isu penataan parkir, lalu lintas, dan perbaikan infrastruktur juga menjadi salah satu sorotan penting. Ini menunjukkan bahwa tantangan perkotaan di Malang bukan persepsi sesaat, tetapi problem struktural yang memang harus ditangani lebih serius dan lintas sektor.

Masalah-masalah tersebut tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan parsial. Kemacetan, misalnya, tidak cukup diatasi hanya dengan pelebaran jalan atau penertiban insidental. Ia berkaitan dengan tata ruang, pola mobilitas, distribusi pusat kegiatan ekonomi, manajemen parkir, transportasi publik, dan perilaku urban masyarakat. Begitu pula persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan pada petugas kebersihan atau armada pengangkut. Ia terkait dengan desain konsumsi kota, literasi warga, insentif ekonomi sirkular, dan keberanian pemerintah untuk mengubah model pengelolaan dari “angkut-buang” menjadi “pilah-olah-produktif”.

Karena itu, jika Kota Malang ingin benar-benar naik kelas, maka arah pembangunannya harus bergeser dari sekadar kota yang tumbuh menjadi kota yang cerdas mengelola pertumbuhan. Pertumbuhan yang tidak diatur akan menghasilkan kepadatan tanpa kualitas. Sebaliknya, kota yang mampu mengelola pertumbuhan akan melahirkan kenyamanan, produktivitas, dan daya saing jangka panjang. Ini penting. Sebab, tantangan menuju 2045 bukan hanya soal membangun lebih banyak, tetapi membangun lebih tepat.

Langkah Strategis untuk Percepat Kemajuan Kota Malang

Ada beberapa langkah strategis yang layak dipertimbangkan untuk mempercepat kemajuan Kota Malang. Salah satunya adalah membangun ruang kolaborasi yang benar-benar hidup antara pemerintah kota, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat. Kota Malang memiliki kekayaan besar berupa kampus, anak muda, pelaku UMKM, serta komunitas kreatif yang sebenarnya bisa menjadi sumber solusi bagi berbagai persoalan kota.

Karena itu, kampus-kampus di Malang perlu lebih didorong untuk hadir bukan hanya sebagai pusat Pendidikan. Tetapi, juga sebagai mitra nyata dalam membantu menyelesaikan persoalan masyarakat dan kota. Masalah seperti kemacetan, pengelolaan sampah, pelayanan publik, penataan lingkungan, hingga penguatan ekonomi lokal seharusnya dapat dikerjakan bersama secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Sumber: