23 Agustus Hari Lahir Ibu Tien, Ibu Negara Tiga Dekade dengan Warisan Sosial dan Budaya yang Istimewa
Raden Ayu Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto, Ibu Negara Indonesia selama tiga dekade.--Istimewa
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Raden Ayu Siti Hartinah lebih akrab dikenal dengan nama Ibu Tien Soeharto merupakan sosok perempuan yang meninggalkan jejak kuat dalam perjalanan sejarah Indonesia modern.
Lahir pada 23 Agustus 1923 di Desa Jaten, Surakarta, ia berasal dari keluarga bangsawan Jawa, putri dari KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo, serta cicit dari Mangkunegara III.
Masa kecil Hartinah diwarnai dengan perpindahan tempat tinggal mengikuti tugas ayahnya sebagai pamong praja.
Kehidupannya yang berpindah dari Jumapolo, Matesih, hingga Solo membuatnya akrab dengan dunia pendidikan bumiputera, bahkan sempat bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS).
Selain itu, sejak remaja ia aktif dalam kegiatan pramuka putri melalui Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) dan Laskar Putri Indonesia pada masa pendudukan Jepang.
Dari Prajurit ke Istri Presiden
Pada 26 Desember 1947, Hartinah menikah dengan seorang perwira muda bernama Soeharto.
Pernikahan yang sederhana di Surakarta ini berlangsung di tengah suasana tegang perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Sejak hari pertama pernikahannya, ia harus menerima kenyataan hidup sebagai istri seorang tentara yang sering meninggalkannya untuk bertugas.
Anak pertamanya lahir ketika Soeharto tengah bergerilya, bahkan beberapa anak lainnya lahir ketika sang suami sedang berada di medan tugas. Dari sinilah kesabaran, keteguhan, dan kesetiaannya terbentuk.
Ketika Soeharto naik menjadi Presiden RI pada 1967, kehidupan Hartinah berubah drastis. Dari istri prajurit, ia menjelma menjadi Ibu Negara.
Perannya bukan hanya sekadar mendampingi, tetapi juga membentuk citra baru Istana Negara yang lebih bercorak Indonesia, mulai dari perabot, karya seni, hingga atmosfer yang lebih hangat.
Peran Besar dalam Pramuka, Sosial dan Budaya
Keterlibatan Ibu Tien dalam dunia pramuka begitu menonjol. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka selama lebih dari dua dekade.
Gagasannya yang paling monumental adalah pembangunan Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur (Wiladatika), yang hingga kini menjadi ikon kepramukaan nasional.

Jambore Nasional Pramuka 1981 di Cibubur--Jamnas Pramuka
Sumber:
