1 tahun disway

Mahasiswa Malaysia Belajar Kuliner, Batik, dan Panji di Kampung Budaya Polowijen

Mahasiswa Malaysia Belajar Kuliner, Batik, dan Panji di Kampung Budaya Polowijen

--

POLOWIJEN, DISWAYMALANG.ID – Sebanyak 19 mahasiswa Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) mengunjungi Kampung Budaya Polowijen (KBP) Kota Malang, Rabu (20/8/2025). Kunjungan dalam rangka cross cultural study ini mempertemukan mereka dengan ragam kuliner tradisional, seni batik, hingga kisah Panji yang menjadi warisan budaya serumpun Jawa-Melayu.

Rombongan mahasiswa jurusan Food Biotechnology tersebut disambut tokoh budaya Ki Demang dan Mbah Karjo. Dalam dialog kebudayaan, keduanya menekankan kedekatan Indonesia, Malaysia, dan Singapura yang disebut sebagai negara serumpun karena memiliki akar sejarah, bahasa, dan kesenian yang sama.

Agenda dimulai dengan santap Sego Berkat, lengkap dengan lauk ayam, urap, tahu, tempe, serta sambal, yang disajikan dalam besek beralaskan daun pisang. Mereka juga dikenalkan dengan polo pendem—singkong, ketela ungu, hingga gembili rebus—yang sarat makna kesederhanaan. Sejumlah jajanan pasar seperti klepon, cenil, lopis, dan horog-horog turut melengkapi pengalaman kuliner.

“Makanan tradisional seperti ini punya kekayaan rasa dan makna. Kalau ingin menarik minat masyarakat modern, perlu inovasi dalam pengolahan dan pengemasan, tapi tetap menjaga gizi dan kebersihannya,” ujar Syarifah, mahasiswi USIM.

BACA JUGA:Pasangan Asal Tasikmadu Raih Juara 1 Keluarga Inspiratif Teladan KB-Lestari 2025

Selain kuliner, para mahasiswa menyaksikan Tari Topeng Malang Grebeg Sabrang oleh penari muda Belinda Princessa Arvarochim, mewarnai Topeng Panji, serta belajar membatik dipandu Rabindra Annesa Danesjvara. Mereka baru mengetahui bahwa meski Malaysia juga memiliki batik, Batik Indonesia telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

“Cerita Panji itu ibarat jembatan kultural antara Jawa dan Malaysia. Nilainya melintasi batas negara dan zaman,” kata Ki Demang.

Kunjungan ditutup dengan medayoh atau silaturahmi ke rumah warga. Mahasiswa Malaysia memberikan cenderamata khas negeri jiran berupa makanan dan gantungan kunci, sebagai simbol persahabatan dengan masyarakat Polowijen. (ab)

Sumber: